Sabtu, 03 Maret 2012

PUISI FEBRUARI


Puisi Gita Nuari


JAKARTA

kota ini berkaki seribu jembatan

para urban memasang tenda di bawahnya

ada manusia menjelma tikus

ada tikus menjelma srigala

pada saat berkumpul, bingunglah aku

sebab tak bisa membedakan

satu sama lainnya

di lima wilayahnya tumbuh pohon benalu

bergelayut di pintu-pintu kehidupan

anak-anak meniup terompet kelaparan

suaranya parau di depan pintu gerbang

rumah para pengusaha dan penguasa

mereka dihiraukan. dianggapnya hanya

sebagai kebisingan semata

kota ini berkaki seribu jembatan

tapi hanya untuk mereka yang mendirikan

dan merobohkannya kembali

sedang yang jadi korban

tentu mereka yang ada di bawahnya.

Depok, 2011


LELAKIKU

lelakiku, di penghabisanku nanti

pintu-pintu akan terbuka tanpa kuminta

tak ada yang bisa kaulakukan

kecuali memilih doa

dan kembang bagi kuburku

lelakiku, aku telah melihat berbagai jalan

tapi aku tak tahu akan lewat mana

sebab ruhku sudah ada yang menuntunnya

dan aku cuma menuntun awan dan angin

masuk ke dalamnya

lelakiku, tanam tubuhku seperti menanam

palawija di lereng dunia

tabur kuburku dengan butiran doa

bukan dengan butiran airmata

sebab butir kepalsuan itu

cuma jadi kerikil nantinya.

Depok, 2011


PUKUL 10.15 PAGI

pagi menyeruak mengusung bara

di setiap tempat keberangkatan,

waktu diperdebatkan. di stasiun,

orang-orang tak lagi santai

mereka kerap bergegas hanya untuk

mencari sebatang tusuk gigi

seekor anjing melintas di depan toko. lalu

menggonggong. orang-orang panik

seorang bocah menyembunyikan mainannya

di belakang ibunya

matahari menggelepar di cakrawala

teriknya disapu oleh tukang sapu jalanan

seorang polisi memaki seekor semut

yang berenang di dalam gelas kopinya

seorang gadis berjalan di tengah rel kereta

langkahnya tak mengandung arah

matanya tak seluncur anak panah

hendak ke mana gerangan?

jakarta sedang mendidih, dis

jangan ke sana. datang saja ke perpustakaan

buku-buku bisa kau buat panduan

isinya tidak membuat bebal pikiran

datanglah ke mana, asal jangan jakarta

tapi jangan bawa rasa ingin bunuh diri!

Depok, 2011


LELAKI PULANG

bulan di senggamai awan

malam jadi temaram

pada bayangan dirimu

kutemukan senyummu

mengalirkan belerang

semua merugi. langit,

tak mungkin bawa pelangi

dan embun tak lagi basah

aku bawa senyummu pulang

melalui semak api

kegelapan menyedot bayanganmu

: lelaki pulang,

hatinya tak sampai

masuk ke dalam.

Depok, 2011


*dimuat di Suara Karya 18 Februari 2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar