Tampilkan postingan dengan label cerpenku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpenku. Tampilkan semua postingan

Jumat, 12 Juni 2009

Cerpenku : CALEG


Sebenarnya cerpen ini sudah dimuat di media cetak dari bulan April 2009, tapi aku lupa posting di sini. Maklum Wima tambah aktif aja nih sekarang, lagi belajar jalan soalnya. Sepertinya waktu habis untuk jagain Wima. Maunya main terus lagi. Duh nih blog jadi ngga keurus deh hikss..

Sabtu, 25 April 2009

Orang pertama yang mendukung Parjo jadi caleg adalah bapaknya sendiri.

"Kamu serius, Jo?" tanya sang bapak. "Saya serius, Pak!" sahutnya spontan.

"Bagus, bagus. Bapak mendukung. Dua ekor sapi milik Bapak, boleh kamu jual untuk memuluskan cita-citamu itu. Pokoknya, Bapak ada dibelakangmu!"

"Terima kasih, Pak. Terima kasih,.."kata Parjo sambil mencium tangan bapaknya tertubi-tubi.

Tak sia-sia Parjo meminta doa restu kepada bapaknya karena bapaknya juga tahu bahwa Parjo sudah banyak mengeluarkan biaya demi jadi seorang caleg di daerah asalnya. Dari menjual mobil, sampai lima hektar tanah sawah miliknya dia jual demi cita-citanya jadi caleg terlaksana. Dana hasil penjualan barang berharga miliknya itu dia gunakan untuk membiaya cetak stiker, sablon bendera partai, sewa bus, sewa angkot untuk membawa massa berkampanye dan memberi aksesoris buat mereka yang ikut. mendukungnya.

Biaya itu juga Parjo gunakan untuk menarik simpati para warga di daerahnya dan di beberapa pelosok desa dengan cara membagi-bagikan sembako, obat-obatan dan tour gratis. Juga memberi modal kepada para petani, para pengangguran agar bisa menciptakan lapangan pekerjaan. Siapa tahu saat pemilu nanti suara mereka untuk kemenanganku, harap Parjo dalam hati sambil tersenyum. Sah atau tidak sah cara Parjo menarik simpati warga, tidak begitu dia pikirkan. Yang penting niatnya baik. Niatku baik kok, membantu warga. Kenapa dilarang? Renungnya. Dan Parjo melakukannya sejak jauh-jauh hari sebelum tanggal kampanye dimulai. Kupikir, bukan pelanggaran memberi bantuan kepada warga sebelum musim kampanye. Dan aku tidak membisikkan apa-apa kepada mereka yang kuberi bantuan. Hanya kuharap mereka itu ingat aku di TPS saat penyontrengan. Itu doang! Cetus Parjo kumudian.

Partai yang mengusung Parjo jadi caleg DPRD Kota B adalah partai Bumi yang bertujuan memajukan rakyat pribumi. Misi lain yang diemban partai tersebut saat berkampanye di alun-alun kota adalah membebaskan rakyat dari segala tuntutan. Memberantas koruptor sampai ke akar-akarnya. Selain sekolah gratis, naik bus, kereta api, kapal laut itu tidak bayar. Begitu juga pada pesawat penerbangan jarak dekat tidak dipungut bayaran. Dan ini rencananya akan menggunakan sistem abonemen. Tujuannya adalah pemerataan disegala bidang. Tidak ada rakyat bertumpuk di satu kota. Tidak ada sekolah sekolah favorit berlokasi di kota-kota besar. Hutan pun tidak akan sepi penduduknya. Karena sampai hutan pun akan disediakan sarana-sarana kebutuhan masyarakat. Jadi orang akan betah tinggal dimanapun. Dan pemerintahannya nanti akan menanggung semua beban biaya apapun selama tokoh-tokoh di partai Bumi menjadi pemenangnya di pemilu legislatif yang akan datang. Tujuannya adalah agar rakyat sejahtera!

Visi dan misi partai Bumi amat sejalan dengan tujuan Parjo. Visinya adalah meningkatkan pendapatan para petani, nelayan, guru dan mensejahterakan para gelandangan dari kemiskinan yang akut. Sedang misinya adalah kesejahteraan sosial bagi seluruh masyarakat. Kesehatan yang murah, cepat, tanggap. Lingkungan nyaman, transportasi gratis. Pemanfaatan asset daerah bagi lapisan masyarakat. Ya, mudah-mudahan usahaku berhasil, renung Parjo. Dan Timo yang meragukan kemampuanku, akan tahu nanti. Mari Timo, mari kita bertarung secara jantan. Kita caleg dari partai yang berbeda, saat inilah kita bisa membuktikan siapa di antara kita yang paling unggul. Juga kamu Sari, kamu boleh menolak cintaku. Tapi nanti, kamu akan terkejut jika aku sudah duduk di kursi parlemen! Kamu akan bertekuk lutut atau balik menghamba padaku, meminta aku meminangmu. Oh, tidak Sari, tidak. Justru aku akan balas sakit hatiku dengan memilih Sara, adikmu sendiri untuk kujadikan istriku. Lihat saja nanti!

* * *

Di hari pemilihan, semua pemilih hadir. TPS yang dibuat di atas tanah lahan kosong luasnya 16 X 10 meter persegi berdiri tepat di bawah pohon flamboyan dan dibatasi oleh tali rapia agar ada pembatas antara pemilih dan petugas. Tampak teduh, nyaman dan damai. Panwaslu sibuk mengatur para pemilih agar tertib dan duduk di bangku yang telah disediakan. Para kandidat kader dari puluhan partai juga hadir untuk menyumbangkan suaranya bagi diri dan kepentingan partainya masing-masing. Satu persatu para pemilih masuk ke bilik penyontrengan. Mereka berseri-seri saat keluar dari bilik penyontrengan itu. Dan hampir semua yang keluar dari bilik penyontrengan tersenyum saat berpapasan dengan Parjo. Pasti mereka telah mencontreng nomor urutku, pikir Parjo. Hmm, aku tidak sia-sia menjual semua hartaku demi memberi bantuan pada mereka sebelum waktu kampanye. Memang, demi meraih cita-cita, pengorbanan itu perlu! Lanjut Parjo lagi. Setelah pemungutan suara usai, istirahat sebentar. Lalu dilanjutkan penghitungan suara. Para petugas KPPS dan panwaslu sibuk menyiapkan segala sesuatu yang akan digunakan untuk penghitungan suara hingga usai. Para pemilih bahkan para caleg termasuk Timo seorang caleg yang diusung oleh partai Mambu sangat antusias untuk melihat hasil penghitungan akhir di TPS. Terlebih lagi Parjo. Caleg yang satu ini tampak lebih antusias daripada caleg-caleg lainnya yang turut hadir untuk menyaksikan hasil penghitungan akhir. Parjo duduk di bangku deretan paling depan yang disediakan panitia. Parjo ingin segala sesuatunya tidak terlewatkan oleh tatapan matanya. Pengalaman masa lalu membuktikan, masih ada petugas yang curang dengan melakukan mengglembungan surat suara. Maka untuk pemilu kali ini dia sangat berhati-hati agar kecurangan pada pemilu lima tahun lalu tidak terjadi lagi pada pemilu tahun ini.

Perhitungan suara teramat sengit. Angka-angka saling kejar. Hati Parjo berdebar. Suara buat nama-nama caleg saling siak. Caleg dari partai Belang mengejar. Tapi disiak oleh caleg dari partai Mambu. Timo tersenyum. Para pendukung partai Bumi bersorak karena nama Parjo mengejar bahkan merapat ke urutan dua. Suara riuh. Kadang gaduh dikarenakan petugas pencatat salah menaruh garis angka di baris yang lain.

"Petugas goblok! Jangan curang ya?" seru seorang pemilih.

"Awas, curang tak telanjangi, kowe!" timpal suara dari dalam kerumunan.

"Dipelintir saja burungnya!" balas suara berikutnya. Pengunjung pada gerr.

"Para penonton tenang, ya. Tenang" pinta seorang petugas hansip yang turut membantu mengamankan tempat pemungutan suara.

"Makanya, jangan salah hitung kalau nggak mau bonyok!" teriak dari dalam kerumunan.

Petugas penghitung suara tersinggung, "Suara siapa itu?" bentaknya sambil matanya mencari asal suara.

"Sudah, kerja saja yang bener! Jangan melawan sama massa, bahaya!" teriak para penonton yang tidak lain adalah para pemilih. Akhirnya kegaduhan reda lagi. Suara buat para kandidat kian sengit. Angka terus berkejaran. Semua punya harapan, semua punya peluang untuk menang. Tapi di sisa limapuluh suara terakhir, nama Parjo mulai tertinggal. Justru suara buat caleg Timo makin naik, nyaris diurutan pertama. Parjo mulai panik. Berdoa dalam hati. Mulut Parjo komat-kamit. Dia berharap tak kalah oleh Timo. Maka dia terus bedoa. Memohon Allah berpihak padanya. Perbedaan angka mulai terlihat. Keringat dingin mulai bermunculan di kening Parjo saat mengetahui kertas suara telah habis. Dan surat suara terakhir milik Timo. Timo menjerit. Melompat setinggi langit. Ucapan selamat berdatangan. Timo girang, Timo senang. Parjo menunduk sedih.

* * *

Di bawah pohon flamboyan yang teduh, bilik bekas TPS belum dibongkar. Parjo sejak pagi hari sudah berada di situ. Tapi tak ada para pemilih yang berjubel seperti kemarin dia lihat. Hari ini hanya dirinya sendiri berdiri mematung memandangi sampah-sampah yang berserakan di sekitarnya. Kekecewaan menggunung di dalam hatinya. Sampah kulit kacang, gelas aqua, puntung rokok, pebungkus permen berserakan seperti kepingan hatinya yang telah hancur. Parjo ingat, kemarin dia berdiri empat meter dari papan penghitungan suara. Suara tepuk tangan, suara aplus, suara maki, suara cibir, suara marah, suara riuh yang dia dengar kemarin bergumul di telinganya jadi satu. Kadang berdengung, kadang mengiang. Kemudian dia melihat senyum manis para pendukungnya, senyum sinis para pesaingnya. Dan semua itu berubah pahit. Getir. Mengamuk, membadai. Mulut Timo yang bersungut-sungut, senyum Sari yang mengejek! Parjo merunduk. Parjo ambruk. Adakah yang curang? Pikir Parjo setelah dia menaruh pantatnya di bawah pohon flamboyan itu.

Parjo terbayang juga wajah-wajah panwaslu, wajah-wajah petugas KPPS, wajah-wajah yang mencerminkan keadilan, wajah-wajah yang mencerminkan kejujuran. Lalu muncul wajah-wajah yang dia curigai, wajah-wajah yang licik, wajah-wajah yang meragukan cara kerjanya. Kenapa aku bisa tak terpilih? Bukankah modalku sudah cukup besar untuk mendapatkan suara mereka? Ah, aku jadi malu. Malu kepada mereka yang telah kujanjikan sesuatu. Malu kepada mereka yang telah kurendahkan. Aku tak bisa membalas sakit hatiku kepada Sari, tak bisa membalas kesombongan Timo terhadapku, renung Parjo. Ah, pasti ada yang curang! Bukankah massaku begitu banyak saat kampanye? Mereka mendukung aku untuk jadi caleg di pemilu legislatif tahun ini demi perubahan. Dipegang Timo, mana bisa ada perubahan?

Parjo tidak tahu, kecurangan tetaplah kecurangan. Dibelahan manapun manusia berada, kecurangan itu pasti ada. Dan ini telah dilakukan oleh Timo saingan terdekatnya. Tanpa diketahui oleh Parjo dan oleh siapapun juga, kecuali mereka yang telah didatangi Timo secara diam-diam dua bulan sebelum hari penyontrengan berlangsung. Timo secara diam-diam telah bertemu dengan semua warga desa itu satu persatu di sebuah tempat untuk membeli suaranya dengan sejumlah uang. Timo berhasil. Dan cara ini tidak dilakukan Parjo terhadap warga desanya. Juga soal ini tidak disadari oleh Parjo kalau cara tidak sehat itu telah dilakukan Timo demi kemenangan dalam pemilu legislative kali ini.

Kegagalan jadi caleg karena kalah suara, jiwa Parjo amat terpukul. Dia lupa istigfar. Dia lupa pepatah, kekalahan adalah kemenangan yang tertunda.

Tiba-tiba hati Parjo mendengar suara-suara gaduh hari kemarin.

"Awas, curang tak telanjangi, kowe!"

"Dipelintir saja burungnya!"

Parjo tiba-tiba tertawa. Geli mendengarnya. Lalu dia ingat orasi-orasinya di panggung kampanye tempo hari. Orasi-orasinya telah menciptakan dunia baru di dalam benaknya. Parjo telah membangun dunia baru di dalam kehidupannya kini. Sebuah kemenangan di dalam mimpinya. "Ha ha ha,.. Terima kasih, terima kasih saudara-saudara. Kita telah meraih sebuah kemenangan yang sangat berharga ini. Tidak sia-sia kita berjoget dalam hujan, tidak sia-sia kita jual harga diri demi kursi panas ini. Ayo, mau saya bangun apa di desa saudara-saudara ini? Bilang saja! Pabrik, hotel, bandara? Ayo, bilang saja. Sekolahan, panti pijat, lapangan golf, atau jalan layang di atas kepala saudara-saudara? Ayo, ngomong saja! Ha ha ha" teriak Parjo. Lalu lelaki yang masih perjaka ini berjalan menuju perkampungan penduduk. Bernyanyi sambil tertawa. Orang-orang yang mengenalnya pada terkejut. Kaget melihat Parjo jadi gila.

"Mas Parjo kenapa bisa jadi gila begitu?" celetuk Imah, seorang janda beranak satu yang rumahnya bersebelahan dengan rumah Sari, seorang gadis desa yang menolak cinta Parjo. Sari cepat-cepat keluar ke rumah setelah mendengar Imah mengabarinya.

"Ih, untung aku tolak dia. Kalau tidak, malulah aku punya pacar jadi orang gila!"

Sambil memukuli kaleng kosong, Parjo mengingatkan orang-orang yang berpapasan dengannya, "Saudara-saudara, jaga tanah air ini. Jangan sampai somplak. Jangan sampai dipotong-potong walau secuilpun. Jaga, jangan sampai dipimpin oleh mereka yang tukang jual asset negara Anak cucu kita harus menikmati hasil kemerdekaan ini. Nang neng nong gung. Nang neng nong gung" celoteh Parjo sambil menari-nari. Bergerak berputar kian kemari.

"Wah, kalah bersaing Parjo jadi gila!" celetuk Timo ketika Parjo lewat di depan rumah Timo yang kebetulan sedang ramai dikunjungi para kerabatnya untuk merayakan keberhasilan Timo jadi caleg.

"Kasihan," kata salah satu teman Timo setelah melihat keadaan Parjo. "Bawa ke rumah sakit saja! Bukankah beberapa rumah sakit sudah menyediakan tempat bagi caleg yang stress atau depresi berat seperti Parjo?"

"Itu bukan urusan kita. Urusan kita adalah mengurusi orang-orang yang masih waras!" tukas Timo.

"Betul juga, Mo!" sahut teman Timo lainnya.

"Sari Sari, sori ya. Aku tak jadi kawini kamu. Oya, Sara. Kita jadi kawin. Kita jadi kawin, win, win! Tang ting tung ting tong, tang ting tung ting tong. Timo kalah, Timo kalah, wek wek! Timo keok, Timo keok,wok wok wok!" Parjo terus mengoceh sepanjang jalan. Siapa yang salah? Siapa yang patut disalahkan kalau setiap caleg yang gagal jadi gila seperti yang dialami Parjo? Apakah peluang jadi caleg itu sendiri yang begitu mudah persyaratannya sehingga dengan mudah pula menjelma mimpi-mimpi indah menjadi seorang yang bakal duduk di kursi panas dengan gaji yang menggiyurkan?

Parjo jadi gila karena kalah. Adakah Parjo Parjo lain setelah pemilu ini?***

* Depok, April 2009

Sabtu, 14 Februari 2009

Cerpenku : Mencari Jeck

MENCARI JECK


Setiap masuk bulan Ramadan, entah kenapa aku selalu teringat Jeck, teman lama yang sudah kuanggap saudara sendiri. Setiap menjelang bulan Ramadan atau setelah satu minggu ibadah puasa berjalan, Jeck suka datang ke rumahku membawa dua buah botol sirup, “Untuk buka puasa,” katanya. Tapi, baru beberapa ucap, ia pergi begitu saja tanpa kutahu kemana perginya. Sampai satu ketika Laras, istrinya, memintaku untuk mencarikan Jeck, atau mencari tahu dimana keberadaan Jeck saat itu. “Kalau sempat berjumpa, sampaikan pesanku untuk cepat pulang,” pesan Laras waktu itu. Tapi ketika kucoba untuk membantu mencarikannya, sulitnya bukan main. Di tempat biasanya nongkrong, tak kutemukan Jeck.
Dulu mencari Jeck mudah, semudah membalikan tangan. Tapi sekarang, sulitnya bukan main. Sudah kucari ke beberapa tempat tapi tak kutemukan Jeck. Entah dimana dia sekarang. Jeck adalah teman baikku sejak kami satu sanggar dimana kami suka latihan teater dan baca puisi bersama. Bakat Jeck cenderung menonjol sebagai penyair ketimbang pemain teater. Maka Jeck konsisten pada jalurnya yaitu menulis terutama yang nyastra ketimbang aksi panggungnya. Banyak pengamat mengatakan bahwa Jeck bakal jadi sastrawan besar. Sebab idealismenya kuat terhadap sastra. Ditopang oleh gaya prosanya yang unik dan memukau. Esai-esainya cukup berbobot serta puisi-puisinya memikat dan kuat.
Tapi dimana dia sekarang?



Mencari Jeck dulu mudah. Jika ada acara pembacaan puisi di Taman Ismail Marzuki, Jeck pasti ada di situ. duduk di lantai, menyimak dengan serius. Tidak baca puisi, ya jadi penonton pembacaan puisi. Dengan mata memerah serta wajah pucat karena kurang tidur. Memang, Jeck kurang bisa menjaga kesehatannya. Mungkin itu akibat banyak jalan, tidak kakinya, ya otaknya.
“Laras, ini duniaku. Kau harus tahu itu. Harus ngerti, harus memahami. Jika kau perahu, aku adalah arus sungai. Tentunya kau selalu ada di pundakku ke manapun aku bergerak!” kata Jeck puitis kepada istrinya sewaktu aku menginap di rumah kontrakannya sepulang menyaksikan Jeck baca puisi.
Jeck tak bisa dikendalikan orang. Istrinya sendiripun tak berkutik. Laras menginginkan Jeck kerja yang lain, yang tetap. Bekerja jadi pegawai atau karyawan apa saja yang penting setiap bulan ada yang diharap dan itu pasti. Jeck tak mengubrisnya. Menanggapi sedikitpun tidak. Jeck tetap setia pada dunianya, yaitu seni.
“Apa cukup kau menghidupi anak istrimu hanya dengan honor tulisan yang tidak menentu itu, Jeck?” kataku padanya suatu hari. Jeck tak menyahut, Jeck tak peduli.
Mencari Jeck dulu mudah, semudah pula menemukan debu di ujung sepatu. tapi sekarang, mencari Jeck sama halnya dengan mencari jarum di lapangan sepakbola.
“Di luar kemanusiaanku, orang boleh jadi apa saja. Kau, atau siapapun. Dan aku jadi penyair adalah kodrat. Tak boleh dibantah. Dunia tidak hanya membutuhkan sandangpangan, politik, perang dan sebagainya. Tapi dunia pun butuh penyair, butuh puisi. Meski puisi itu sendiri tidak memerlukan dunia karena puisi sudah memiliki dunianya sendiri,” kata Jeck sepulang menyaksikan pementasan teater di TIM, setahun yang lalu. Aku selalu ingat kata-katanya itu sehingga aku jadi kangan padanya. Dan kini sudah dua ramadhan aku tak bertemu dirinya lagi. Terus terang, aku rindu berbincang tentang seni dengannya. Terutama sastra. Ya, bagaimana aku bisa melupakan dirinya kalau di saku celana jeans belelnya selalu ada secarik kertas yang penuh coretan tangan menguraikan bait-bait puisi. Ah, Jeck… di mana kau sekarang?
Teman-teman yang dulu satu sanggar tak tahu dimana Jeck sekarang berada. apakah Jeck sudah berganti profesi jadi pelukis karena bakatnya ada juga di sektor itu. Lalu dia menawarkan jasa lukisnya di trotoar? Atau bergabung dengan rekan pelukis lainnya di pasar seni? Akan tetapi, kenihilanlah yang kudapatkan setelah tak kutemukan Jeck di tempat itu.
“Pulang ke kampung ibunya barangkali, jadi petani!” kata Hendy, seorang pelukis senior.
“Bisa jadi. Bukankah orangtuanya kaya, siapa tahu si Jeck dikasih modal untuk jadi petani berdasi?” dukung Jajad, seorang pelukis senior lainnya.
“Apa mungkin, Jad?” sanggahku. “Sebab aku tahu sekali sifat si Jeck, dia pantang dibantu.”
“Hmm, barangkali saja si Jeck jadi TKI ke negeri jiran,” celetuk Narno seorang pengukir.
“Ya, ya ya… bisa juga! Jadi pembantu pagi hari, siang ngamen, malam menulis puisi! Pulang ke Indonesia langsung bisa bangun rumah!” timpal Jajad dimana ocehannya menyinggung perasaanku sebagai teman dekat Jeck. Aku pikir, aku tak merasa perlu lagi bertanya pada mereka tentang Jeck mengingat kekonyolan ucapannya lagi yang akan kudapat.
***

Hari itu Jakarta benar-benar dipanggang matahari. Puasa terasa berat dalam iklim seperti itu. Tapi niatlah yang menjadikan kami kuat menjalankan ibadah puasa. Aku bersama Gina, tunanganku, menyeberang jalan melalui jembatan penyeberangan dari jalan Gajah Mada menuju jalan Hayam Wuruk. Turun dari tangga penyeberangan tepat di samping halte bus. Aku tuntun Gina sambil menyetop bus kota jurusan Blok M.
Bus yang kami tumpangi dalam keadaan penuh penumpang. Tapi aku nekat mengajak Gina naik ke dalam bus itu. Para penumpang berjejal dari dalam sampai ke pintu persis ikan pepes. Padat. Aku tarik tangan Gina untuk bisa merangsek masuk ke dalam. Namun sampai di dalam aku justru khawatir terhadap Gina jika dia tak dapat tempat duduk atau tak ada orang yang mau memberi tempat duduk untuknya sebab calon istriku ini tak kuat berlama-lama berdiri di dalam bus yang padat seperti itu karena sering pusing dan mual jika menghirup aroma penumpang siang hari terutama didekat orang yang berkeringat banyak dan bau. Gina suka langsung muntah. Bisa-bisa batal puasanya, pikirku. Semalahan, jika ditemukan penumpang yang merokok di dalam bus, Gina langsung minta turun walau tujuan masih jauh. beruntung tidak berselang lama, ada seorang perempuan bangkit hendak turun. Bangku yang ditinggalkannya itu langsung saja kuserobot untuk Gina duduk. Akhirnya Gina merasa nyaman. Aku sendiri lega.
“Tutup sedikit jendelanya, Mas,” pinta Gina setelah merasakan angin kencang dan berdebu masuk mengacak-acak rambutnya. Dengan tersenyum aku melakukan perintahnya. Aku iklas melakukannya karena aku sangat sayang padanya. Wajah Gina berkeringat. Aku beri dia sapu tangan. Dia menotoli butir-butir keringat di wajahnya. Matahari terus memanggang kami di dalam bus. Tapi di dalam sesaknya penumpang, masih sempat saja seorang pengamen naik ke dalam bus dan langsung menyelinap ke belakang supir. Supir tak berani melarang. Bisa-bisa jadi masalah dibelakang harinya. Maka dibiarkan saja pengamen itu mengambil kesempatan di dalam kesempitan. Pengamen yang memakai topi kupluk itu kemudian berbasa-basi untuk menjual suaranya. Aku menoleh ke arah Gina. Gina tersenyum. Terdengar gitar dipetik. Suara pengamen dan suara gitar yang bercampur baur dengan suara teriakan kondektur serta mesin mobil itu mulai melagu. Lagu rakyat jelata yang lagi naik daun itu mengumandang sumbang. Fals. Gina terus menotol-notol butir keringat di leher dan tengkuknya. Pengamen itu selesai menyanyi, terus membuka topi kupluk sebagai alat meminta imbalan balas jasanya. Aku terkejut. Gina melihat keterkejutanku.
“Ada apa, Mas?” tanya Gina
“Tak ada apa-apa. Tapi, bukankah itu Jeck? Ya, itu Jeck… Jeck temanku yang selama ini aku cari!”
“Jeck siapa?” potong Gina.
“Jeck, si penyair itu, Gina. Temanku dulu! Tapi kenapa dia jadi pengamen?” cetusku tak percaya. Jeck tak melihat keberadanku di dalam bus itu. Sambil sedikit menunduk, Jeck menyodorkan topi kupluknya itu ke setiap penumpang. Dan ketika dia sampai dihadapanku, langsung kusapa.
“Jeck…” sapaku.
Jeck memperjelas pandangan. Jeck terkejut. Dengan tergesa dia beringsut ke belakang menuju pintu bus setelah mengenali wajahku. Aku kejar Jeck ke pintu sambil menerobos puluhan ketiak para penumpang.
:Jeck, aku Danang. Masak kau tak mengenali aku, temanmu! Eh, ke mana saja kau, penyair!” seruku sambil memegangi pundaknya. Jeck tak bisa berkutik. Jeck yang kukenal selalu tegar, selalu ceria, hari itu lesu tak bergairah bertemu denganku.
“Aku sekarang jadi pengamen, Nang…Bukan penyair lagi,” ujarnya lirih. Aku terenyuh. Suara Jeck dibebani derita yang amat berat.
“Kau tetap penyair yang kubanggakan. Makanya, aku selalu mencari kau dimanapun kau berada. Kapan kau baca puisi-puisimu lagi. Aku kangen Jeck…”
“Tidak lagi, Nang. Sekarang aku pilih mengamen. Aku butuh uang. Anak dan istriku perlu makan, perlu baju untuk Lebaran,” katanya polos. Aku merinding dibuatnya. Alhamdulillah, Jeck sudah berkumpul lagi dengan keluarganya. Gina tiba-tiba memanggil dari tempat duduknya. Dan saat aku menoleh ke arah Gina, Jeck sudah melompat ke jalan. Aku kecewa. Tak mungkin aku ikut melompat untuk ikut sejenak bersamanya demi mendengar cerita hidupnya selama tak bertemu atau tentang keberadaannya sekarang sebab suara Gina yang terus-menerus memanggilku. Sedang bus semakin jauh meninggalkannya. Ah, aku kehilangan Jeck lagi.***

Senin, 12 Januari 2009

Cerpenku : Aku, Nenek dan Halte Bus

Setiap pagi, aku selalu berada di halte bus untuk menunggu Mas Budi men-jemputku dengan mobilnya. Di halte bus itu selain terdapat beberapa orang yang menunggu bus, terdapat pula seorang nenek tua tengah berjualan koran. Nenek yang dikenal bernama nenek Peni ini, menjual beberapa koran dan beberapa tabloid yang digeletakkan begitu saja diatas plastik. Aku sengaja selalu berada di halte itu setiap pagi karena permintaan Mas Budi.
"Biar kujemput saja, dan kamu tunggu saja aku di halte itu," kata Mas Budi lewat telepon. Karena aku tak mau banyak omong, kuturuti saja permintaan Mas Budi. Dan nyaris dua tahun lamanya aku selalu setia menunggu jemputan Mas Budi untuk mengantarku berangkat ke kantor dengan mobilnya.
Mas Budi ini adalah seorang pria yang sangat aku cintai. Tapi sayangnya, ia sudah beristri. Entah kenapa aku mau berhubungan dengan pria yang sudah beristri? Aku sendiri tak tahu. Cinta memang buta, pikirku. Tapi sebenarnya, aku mulai pusing memikirkan hubungan ini karena tiada kejelasan sikap dari Mas Budi sendiri. Aku hampir-hampir putus asa, pasrah atau meninggalkan Mas Budi. Kalau sudah didera beribu pertanyaan seperti itu, aku jadi salah tingkah dan tidak bisa berbuat apa-apa. Entahlah, aku jadi bingung kenapa aku bisa kecantol dengan Mas Budi begini rupa. Memang tak bisa dipungkiri, kisah ini berawal dari seringnya kami berjumpa. Mas Budi yang bekerja sebagai seorang manager di sebuah perusahaan yang bergerak di bidang ekspor impor, dan kebetulan perusahaannya ada kerja sama dengan dengan perusahaan dimana aku bekerja, jadilah aku dan Mas Budi sering mengadakan pertemuan. Dari urusan kantor sampai ke urusan pribadi. Dengan demikian bermunculan benih-benih cinta yang begitu besar dan menggebu. Sampai akhirnya aku seperti istri simpanan Mas Budi yang terus bergantung kepada aturannya. Dan di halte ini lagi, aku menunggu kedatangannya untuk kesekian kalinya sambil memperhatikan cara nenek Peni menjajaki dagangannya.
"Koran Non, beritanya rame-rame!" begitu cara nenek Peni menawarkan dagangannya padaku. Awalnya aku merasa geli dengan cara nenek Peni menawarkan dagangannya seperti itu, tapi akhirnya aku senang juga dan kuanggap itulah ciri nenek Peni yang tak bisa aku lupakan. Untuk menyenangkan hati sang nenek, akhirnya aku membeli satu buah tabloid wanita. "Korannya nggak sekalian, Non?" tanyanya kemudian.
"Tabloid ini dulu saja, Nek. Buat iseng baca di kantor," sahutku sambil mengeluarkan uang pembayaran.
"Sungguh Non, korannya beritanya rame-rame," tawarnya lagi. "Kok Nenek tahu?" tanyaku sekadar menanggapi.
"Lihat saja foto-fotonya. Ada demo, ada kebakaran, ada tawuran antar warga," ungkapnya polos. Aku nyaris tertawa lepas saat mendengar omongannya. Giginya yang sudah banyak ompong itu mengingatkan aku pada seorang nenekku yang berada di kampong halaman. Belum sempat aku melihat-lihat tabloid yang lain, Mas Budi keburu datang dengan mobilnya. Aku permisi pada nenek Peni, dan tampak ia memperhatikanku tanpa berkedip ketika aku masuk ke dalam mobil yang dikemudiakan Mas Budi.
"Kenapa kamu tersenyum-senyum seperti itu?" tanya Mas Budi sambil menjalankan kembali mobilnya.
"Aku merasa geli melihat cara nenek tadi menawarkan dagangannya."
"Kenapa?"
"Ya lucu saja," jawabku singkat. Lalu sepi. Mobil berjalan biasa saja. Biasanya dia main kebut setelah aku berada di dalam mobilnya. Ini kali sungguh kalem.
"Santy," panggilnya sambil matanya tetap mengawasi ke depan. Aku menoleh ke arahnya, "Apa kamu sudah menemukan jalan lain untuk kelanjutan hubungan kita?" tanyanya kemudian. Senyumku kurasakan tiba-tiba hilang. Urusan kembali rumit. Betapa tidak, aku sudah nekat dijadikan istri keduanya bila Mas Budi benar-benar mau adil. Eh, sekarang malah menanyakan padaku soal 'jalan lain', anehkan! Dan bila itu terjadi tentu akan jadi masalah bagi istri pertamanya. Aku sadar, aku merasa orang yang paling berdosa dalam hal ini. Tapi siapa bisa menentang koderat kalau Tuhan sudah memberi jalan hidup seperti yang kualami sekarang. Meski pada dasarnya tak ada seorang istri pun mengijinkan suaminya kawin lagi, dan wanita mana yang mau dijadikan istri kedua kalau tidak ada masalah lain?
"Jalan lain, maksud Mas?"
"Ya, jalan lain,"
"Tentu menikahlah, Mas!" cetusku. Mas Budi tersentak. "Kenapa? Berat!?"
Mas Budi menoleh, "Bukan begitu, Santy. Kamu tahu kan , keadaanku?"
"Dari dulu aku tahu kalau Mas Budi sudah beristri. Lalu kenapa? Apa Mas menginginkan aku kawin dengan lelaki lain, dan kita bubar secara baik-baik! Begitu maksud Mas?"
Mas Budi hilang suaranya. Wajahnya beku menghadap ke depan. Aku tiba-tiba ingin menangis, tapi mobil Mas Budi tak terasa sudah berhenti di depan kantorku.
Pagi itu, aku kembali berdiri di halte bus untuk menunggu Mas Budi menjemputku. Dan nenek penjual koran itu tersenyum ketika melihat kedatanganku.
"Korannya Non, beritanya rame-rame!" tawarnya seperti itu lagi. "Coba Non lihat, orang-orang yang ada di koran ini, kan semuanya orang-orang jahat. Tapi kenapa ya, matanya tidak ditutup. Dulu, pada zaman nenek muda, kalau ada orang jahat di koran, matanya selalu ditutup. Kenapa sekarang tidak. Bagaimana cara membedakan orang jahat sama orang yang tidak jahat?" lanjutnya dengan nada bertanya.
"Nenek kan bisa baca untuk mengetahui apa yang terjadi di koran itu," kataku sekedar menjelaskan. Nenek itu tiba-tiba tertawa, dan kembali aku melihat ompong giginya.
"Nenek tidak bisa baca, Non," akunya. "Nenek dulu tidak sekolah. Nenek cuma bisa mengaji."
Sebuah bajaj tiba-tiba berhenti di depan halte bus. "Eh, entu cucu Nenek," tunjuknya ke arah seorang anak muda yang membawa kendaraan bajaj. Anak muda itu menyodorkan beberapa tabloid kepada nenek Peni. Lalu tanpa basa-basi anak muda itu ngeloyor pergi membawa bajajnya. "Itu cucu Nenek. Tadinya dia jualan koran di sini, tapi dia tertarik kepingin narik bajaj, terus Nenek disuruh nunggu dagangannya di halte ini. Nenek mau, karena Nenek kasihan sama cucu Nenek, karena kedua orangtuanya, yaitu anak Nenek, sudah meninggal sewaktu terjadi kerusuhan di pasar Ciledug," lanjutnya panjang lebar. Hatiku tiba-tiba saja terenyuh. Tapi kulihat nenek itu begitu tegar. Aku ingin seperti dia, tegar mengalami berbagai macam cobaan.
Sepuluh menit kemudian, Mas Budi muncul dengan mobilnya. Aku masih tertarik dengan cerita nenek Peni, tapi tidak mungkin aku selalu berada di situ jadi pendengar setia lakon hidupnya. Aku sendiri pun merasa perlu ada orang yang mau membantu mencari jalan keluar seperti Mas Budi sebut 'jalan lain' untuk masalah yang sedang kami hadapi.
"Aku baru menemukan jalan lain untuk kita berdua," cetusnya setelah membawa mobilnya jauh dari halte bus. Aku sebenarnya sudah bosan dengan pendapat-pendapat Mas Budi yang terkesan menguntungkan dirinya sendiri. Tapi 'jalan lain' yang dia bawa ini, mungkin lebih masuk akal atau bisa melegakan pikiranku yang selama ini terus-menerus di 'belenggu' bila yang akan disampaikan nanti dapat memuaskan hatiku.
"Jalan macam apa, Mas?"
Mas Budi menoleh padaku, "Rumahku yang di Bintaro, tak ada yang menempati. Aku ingin kamu yang menempati dan mengurusinya. Sekaligus rumah itu sebagai hadiah ulang tahunmu, dariku."
"Maksud Mas, biar aku tinggal di situ?" potongku karena aku tak paham maksudnya.
"Iya, dan nanti setiap dua hari sekali, aku akan pulang ke Bintaro untuk menemuimu. Bagaimana, kamu setuju?"
Mukaku seakan ditamparnya. Aku tak menghendaki ini. Aku tak menginginkan harta ataupun yang lainnya. Kecuali aku dinikahi secara resmi. Itu saja. Tinggal dimanapun aku tak masalah. Yang penting aku jadi istri yang sah, bukan sekedar pacar gelap seperti sekarang ini. Aku tak mau dicap selingkuh dengan suami orang. Aku tak mau. Aku pusing. Aku tak bisa berkomentar apa-apa kecuali menghapus air mataku yang menetes di kedua pipiku ketika aku turun dari mobil Mas Budi.
** *
Pagi itu, pikiranku masih kusut. Pekerjaanku di kantor cukup padat, menumpuk. Seperti persoalan-persoalan di ruang pengadilan, begitu kompleks. Aku kelihatan diam, tapi hatiku seperti dipenuhi suara-suara pasar, atau seperti sebuah stasiun yang begitu bising dan sumpek. Aku berangkat lebih pagi agar semua pekerjaanku bisa kuselesaikan satu persatu. Soal Mas Budi, sudah aku SMS agar ia tak menjemputku pagi ini di halte yang biasa. Aku hari ini mau sendiri, mau lebih cepat tiba di kantor. Akan tetapi, setibanya aku di lokasi tempat halte bus itu berada, aku tak melihat halte bus itu berdiri, melainkan halte bus itu telah roboh ke tanah dengan atap yang hancur berkeping-keping. Sedangkan di bawah halte yang roboh itu berserakan pecahan kaca mobil. Pot-pot bunga yang berada di samping halte itu tak luput berantakan seperti terkena benturan yang cukup keras. Aku melihat selembar plastik sebagai alas untuk berjualan koran nenek Peni tampak tertindih atap halte yang sudah tak karuan bentuknya. Orang-orang berkerumun saling membicarakan perihal kejadian yang sebenarnya. Seorang wartawan sedang memotret dari beberapa sudut..
" Ada kejadian apa, Bang? Apa ada demo kemarin sampai-sampai halte bus dirobohkannya?" tanyaku memancing untuk sekadar mencari tahu.
"Halte bus ini kemarin siang, diseruduk bus kota yang supirnya ugal-ugalan."
Aku terkejut, " Ada yang ketabrak, Bang?"
"Tiga orang meninggal seketika!" ungkap wartawan itu. Aku tambah penasaran.
"Penumpang bus, atau pejalan kaki yang meninggal?" kejarku.
"Dua orang calon penumpang yang sedang menunggu bus, dan satu lagi seorang nenek-nenek yang sedang berjualan koran di bawah halte itu," jelas si wartawan sambil memotret bagian-bagian lain. Napasku terasa sesak. Tubuhku mendadak gemetar.
Oh, betapa malang masib nenek penjual koran itu, renungku. Nenek Peni yang baru kukenal tapi telah bercerita banyak tentang anak dan cucunya. Sedangkan aku belum sedikitpun bercerita kepadanya tentang diriku yang setiap hari menunggu lelaki bermobil sedan yang sering menjemputku di halte bus itu.
Nenek Peni keburu dipanggil oleh Yang Maha Kuasa. Rasanya, seperti ada yang ikut lepas setelah mendengar nenek Peni meninggal. Entah itu apa. Dan di mana Mas Budi, apakah dia telah menemukan 'jalan lain' lagi untuk mengatasi diriku yang semakin terpuruk di dalam penantian. Sepertinya, aku harus lebih teliti dan berhati-hati setelah tahu bahwa hidup ini penuh dengan misteri. ****

Jakarta , 2003/2005

Cerpenku : Perempuan di Seberang Jalan

Sumber: Suara Karya, Edisi 04/02/2006

Seorang perempuan terlihat tengah menggendong seorang bayi di seberang gedung perkantoran bertingkat. Sesekali perempuan itu mendongakkan kepala ke lantai empat, di mana Silvia berkantor. Sejak perempuan itu datang, matanya selalu tertuju ke arah Silvia berada.
“Lihat perempuan itu, Vera,” kata Silvia kepada teman sekantornya yang juga tahu keberadaan perempuan itu di depan kantornya. “Dia berdiri lagi di situ. Mau apa dia? Apa tidak kasihan sama anak yang digendongnya?”
“Mungkin dia mau cari pekerjaan. Kamu tawarkan saja dia jadi pembantu di rumahmu,” sahut Vera sambil menoleh ke bawah, di mana berbagai jenis kendaraan berlalu lalang di depan perempuan yang sedang dibicarakannya.
“Untuk apa pembantu, di rumahku tak ada pekerjaan. Kau sajalah.”
“Ah, pembantu di rumahku sudah dua orang. Kau saja, Sil.”
“Aku nggak butuh, Vera. Aku suka mengerjakannya sendiri.”
“Untuk menjaga rumahmu barangkali?”
“Sekarang ini masalah pembantu rumah tangga lagi rawan. Jadi, aku belum
membutuhkannya,” tukas Silvia kembali. Dan, perempuan yang tengah dibicarakan itu tetap bertahan di seberang kantornya, menatap ke lantai empat di mana Silvia berada.
Handphone Silvia berdering. Silvia mengangkatnya.
“Sil, mau dijemput jam berapa?” terdengar suara suaminya.
“Jam empat saja Mas, aku mau ke Pasar Baru. Antar aku ya.”
“Ya, jam empat aku ke kantormu,” sahut Fredy, suami Silvia. Silvia tersenyum. Telepon ditutup.
“Enak ya, punya suami setia,” sela Vera yang sempat menguping. “Mau jemput
aja pake nanya dulu kesiapanmu. Terus mau mampir ke mana dituruti. Beruntung kamu Sil, punya suami seperti Fredy,” sanjung Vera. Silvia hanya tersenyum menanggapi komentar teman kerjanya itu.
Pukul empat kurang lima menit Fredy sudah muncul. Silvia melihat kedatangan suaminya itu dari jendela. Dan, perempuan yang menggendong bayi di seberang jalan juga turut memperhatikan kedatangan Fredy yang mengendarai Soluna merah memasuki pelataran parkir. Apa tidak cape berdiri seharian di situ, renung Silvia sesaat matanya masih menangkap sosok perempuan itu. Lalu Silvia pamit kepada Vera yang masih membenahi kertas kerjanya, terus ke luar pintu menuju lift. Setibanya di groundfloor, Fredy sudah menyambutnya dengan senyuman manis. Perempuan yang menggendong bayi di seberang jalan itu menyaksikan sepasang suami istri itu keluar gedung dengan pandangan mata yang nanar.
“Mas, perempuan yang berdiri di pinggir jalan itu sudah sejak pagi hari berdiri di situ. Apa tidak kasihan sama bayi yang digendongnya?” kata Silvia ketika mobilnya melewati perempuan itu. Fredy yang sempat menoleh sekejap ke perempuan yang diceritakan istrinya itu mendadak linglung namun tak diketahui Silvia. Seperti ada getaran yang tiba-tiba merayap ke tubuh Fredy ketika sekilas tadi matanya melihat perempuan yang dimaksud istrinya. “Kasihan juga mas, masa dari tadi pagi kerjanya cuma mondar-mandir di depan kantorku. Entah siapa yang ditunggunya,” lanjut Silvia menerangkan. Sedangkan Fredy justru menancap pedal gas setelah kaca spion memperjelas sosok perempuan itu.
“Mungkin orang kesasar!” tukas Fredy sekadar mengusir kegusaran hatinya.
“Kesasar kok nggak mau nanya, ya repot!” timpal Silvia. Sang suami kali ini tidak
menanggapi. Fredy lebih sering bicara dengan perasaannya sendiri sejak melihat perempuan itu berdiri di depan kantor istrinya.
Dari Pasar Baru Fredy tidak mau diajak ke mana-mana lagi oleh Silvia. Alasan Fredy, ada pekerjaan kantor yang terpaksa dia bawa pulang ke rumah. Silvia tidak protes karena dia tahu pekerjaan suaminya begitu padat sebagai manager di perusahaan yang bergerak di bidang asuransi sehingga pekerjaan itu sering dibawa pulang ke rumah, dan Silvia amat tahu itu. Namun sebaliknya, jika pekerjaan Fredy benar-benar menumpuk, barulah dia total mengerjakannya di kantor sampai pagi. Bila Fredy kecapean karena pekerjaannya itu, Silvia rela memijiti suaminya sampai badannya segar kembali. Belum lagi, kalau Fredy minta diteruskan dengan bercinta, Silvia dengan senang hati melayaninya. Silvia selalu tanggap terhadap apa saja yang diinginkan suaminya. Tapi satu hal yang belum dikabulkan keinginan suaminya yaitu, anak. Silvia kadang kehabisan akal bila Fredy menanyakan hal itu. Karena, hingga kini Silvia belum hamil-hamil juga.
Tetapi untuk hari itu, Fredy tidak minta apa-apa. Dipijiti atau bercinta. Ada yang bergelut di dalam hatinya. Bahkan dadanya seakan hendak meledak. Mengapa dia ada di situ? Kalimat itu terlintas di benak Fredy saat menjelang tengah malam, saat Silvia sudah tertidur nyenyak.
* * *
Orang-orang yang berpapasan dengan perempuan yang berdiri di tepi jalan raya itu hampir semua matanya tertuju kepada bayi yang digendongnya. Seorang ibu datang menghampiri lalu memberi sejumlah uang. Mungkin untuk membeli susu atau membeli keperluan si bayi yang digendongnya. Orang-orang yang merasa iba, ikut-ikutan memberi uang ala kadarnya. Dan, perempuan itu tidak menolak meski dia tidak merasa mengemis. Sudah tiga hari ini perempuan itu berturut-turut datang membawa bayinya lalu berdiri di tepi jalan raya itu lagi, di seberang gedung perkantoran tempat Silvia bekerja. Silvia yang sering melihat perempuan itu, jadi ikut-ikutan bingung terhadap kelakuannya yang sanggup berpanas-panas dari pagi hingga petang. Apa maksud perempuan itu berdiri terus-terusan di situ? Renung Silvia untuk yang kesekian kali.
Namun ada kejadian yang teramat janggal di mata Silvia, yaitu sewaktu dia sedang asyik-asyiknya memperhatikan perempuan itu, tiba-tiba datang sebuah mobil sedan berwarna merah dan berhenti tepat di depan perempuan yang sedang menggendong bayi itu. Silvia amat terkejut karena kenal betul dengan mobil sedan yang berhenti di depan perempuan itu. Bukankah itu mobil Fredy? Silvia membatin. Seorang pria keluar dari dalam mobil dan langsung menghampiri perempuan itu. Sang ibu satu anak itu tampak terkejut sewaktu tangannya ditarik paksa untuk masuk ke dalam mobil. Setelah perempuan itu dapat dibawa masuk bersama bayi yang digendongnya, dengan cepat mobil itu dipacunya ke arah utara. Kejadiannya begitu cepat, sampai-sampai Silvia terpaku diam tanpa bisa berteriak untuk mencegah perbuatan pria yang ternyata adalah suaminya sendiri. Ada apa suamiku dengan perempuan itu? Renung Silvia ketika sadar bahwa telah terjadi sesuatu yang tidak dia ketahui. Yang melihat kejadian itu bukan hanya Silvia, tetapi orang-orang yang berada di sekitar lokasi itu.
“Tadi itu penculikan!” kata seseorang.
“Kejadiannya begitu cepat. Mau dibawa ke mana perempuan dan bayinya itu?”
kata yang lain.
“Ada apa?” tanya seseorang yang belum paham.
“Penculikan!”
“Ooh”
Melihat kejadian yang sangat tak terduga itu, Silvia nekat pulang cepat. Dia
bingung, mau berbuat apa, melapor atau apa. Semua belum bisa dia pahami. Bahkan Silvia tidak tahu lagi di mana suaminya kini berada. Karena sampai larut malam Fredy belum pulang. Ketika dikontak lewat HP-nya, ternyata HP suaminya tidak diaktifkan. Hati Silvia tambah gelisah. Rasa cemburu mulai merayap, mulai membakar kepercayaannya terhadap suaminya yang sangat dia cintai itu. Tiba-tiba telepon di rumahnya berdering. Silvia memburunya cepat, “Mas Fredy?” sapa Silvia dengan bibir gemetar.
“Sabar Sil, aku tahu kamu gelisah,” sahut Fredy dari seberang, “Tapi dengar dulu omonganku,” lanjutnya.
“Jangan dikira aku tidak tahu, mas. Aku melihat apa yang mas lakukan terhadap perempuan itu tadi siang. Jelas sekali, mas! Sekarang katakan, dibawa ke mana perempuan dan anaknya itu?” tanya Silvia berang.
“Anak.., anak itu sekarang ada di dalam mobil. Ta…, tapi ibunya, ibunya,” suara Fredy terputus-putus.
“Kenapa dengan ibunya?” kejar Silvia tak sabar, cemas dan gelisah.
“Tak sengaja aku telah membunuhnya! Maafkan aku Sil.” Wajah Silvia tiba-tiba
berubah tegang, sedang tubuhnya jadi lemas. “Sil, Silvia, dengar dulu aku mau bicara, aku mau berterus terang! Kamu harus bantu aku, aku khilaf!”
“Siapa perempuan itu?”
“Ceritanya panjang Sil, tapi anak yang digendongnya itu adalah anakku.”
“Apa?” Silvia terkejut. Kian perih hatinya. Beribu pekikan muncul di dalam
dadanya. Dia baru sadar kalau orang yang dia cintai itu ternyata hanya seorang bajingan! Benaknya berkata.
“Terus terang, aku ingin punya anak. Maka aku kawini perempuan itu secara diam-diam. Sudah setahun ini, Silvia. Dan, kuminta perempuan itu tetap tinggal di kampung bersama kedua orang tuanya, tapi ternyata perempuan itu tidak sabar. Dia nekat mencariku, dan dia minta untuk tinggal serumah bersama kita. Aku tolak mentah-mentah keinginannya. Tapi dia mengancam, kalau tidak dituruti dia akan meletakkan anak itu di depan kantor kamu. Dan, itu nyaris dia lakukan kalau tidak keburu aku bawa pergi,” papar Fredy
Silvia terisak keras.
“Maafkan aku, Sil. Kamu harus tolong aku. Jangan bilang siapa-siapa atau lapor
polisi tentang kejadian ini. Anak yang ada di tanganku ini kita rawat saja. Kita besarkan bersama-sama. Mudah-mudahan tak ada orang melihat apa yang baru saja aku lakukan. Bantu aku, Silvia.”
“Baik,” kata Silvia berusaha menguatkan hatinya. “Sekarang mas pulang, dan bawa anak itu ke rumah,” lanjut Silvia mencoba tenang, tapi air matanya tidak bisa dibendung.
“Terima kasih, terima kasih Silvia, aku akan segera pulang.”
“Sekarang!”
“Ya, sekarang.”
Telepon terputus. Silvia terduduk lunglai di lantai rumahnya. Hatinya remuk
redam. Tak menduga kejadiannya akan seburuk ini. Tetapi entah apa yang dirasakan oleh Silvia di tengah malam itu ketika dia tiba-tiba bangkit lagi lalu meraih kembali gagang telepon dan kemudian memutar nomor-nomor tertentu.
“Halo, selamat malam, kantor polisi? Ini saya, Silvia, melaporkan bahwa tadi siang telah terjadi penculikan anak di depan gedung Mutiara II, dan sekaligus terjadi pembunuhan terhadap ibu si anak itu di tempat lainnya. Tolong Bapak datang ke Jalan Palang IX Nomor 2002, karena si pelaku akan datang ke rumah saya malam ini!” Lapor Silvia kepada polisi yang menerima pengaduannya.
Setelah Silvia menelepon polisi, di benaknya berkata; ‘Aku mau tahu, seperti apakah melihat Fredy berjalan dengan tangan diborgol!’
***