Jumat, 08 Maret 2013
Puisi tentang Manila, Filipina
Sabtu, 03 Maret 2012
PUISI FEBRUARI
Puisi Gita Nuari
para urban memasang tenda di bawahnya
ada manusia menjelma tikus
ada tikus menjelma srigala
pada saat berkumpul, bingunglah aku
sebab tak bisa membedakan
satu sama lainnya
di
bergelayut di pintu-pintu kehidupan
anak-anak meniup terompet kelaparan
suaranya parau di depan pintu gerbang
rumah para pengusaha dan penguasa
mereka dihiraukan. dianggapnya hanya
sebagai kebisingan semata
tapi hanya untuk mereka yang mendirikan
dan merobohkannya kembali
sedang yang jadi korban
tentu mereka yang ada di bawahnya.
Depok, 2011
LELAKIKU
lelakiku, di penghabisanku nanti
pintu-pintu akan terbuka tanpa kuminta
tak ada yang bisa kaulakukan
kecuali memilih doa
dan kembang bagi kuburku
lelakiku, aku telah melihat berbagai jalan
tapi aku tak tahu akan lewat mana
sebab ruhku sudah ada yang menuntunnya
dan aku cuma menuntun awan dan angin
masuk ke dalamnya
lelakiku, tanam tubuhku seperti menanam
palawija di lereng dunia
tabur kuburku dengan butiran doa
bukan dengan butiran airmata
sebab butir kepalsuan itu
cuma jadi kerikil nantinya.
Depok, 2011
PUKUL 10.15 PAGI
pagi menyeruak mengusung bara
di setiap tempat keberangkatan,
waktu diperdebatkan. di stasiun,
orang-orang tak lagi santai
mereka kerap bergegas hanya untuk
mencari sebatang tusuk gigi
seekor anjing melintas di depan toko. lalu
menggonggong. orang-orang panik
seorang bocah menyembunyikan mainannya
di belakang ibunya
matahari menggelepar di cakrawala
teriknya disapu oleh tukang sapu jalanan
seorang polisi memaki seekor semut
yang berenang di dalam gelas kopinya
seorang gadis berjalan di tengah rel kereta
langkahnya tak mengandung arah
matanya tak seluncur anak panah
hendak ke mana gerangan?
jangan ke
buku-buku bisa kau buat panduan
isinya tidak membuat bebal pikiran
datanglah ke mana, asal jangan
tapi jangan bawa rasa ingin bunuh diri!
Depok, 2011
LELAKI PULANG
bulan di senggamai awan
malam jadi temaram
pada bayangan dirimu
kutemukan senyummu
mengalirkan belerang
semua merugi. langit,
tak mungkin bawa pelangi
dan embun tak lagi basah
aku bawa senyummu pulang
melalui semak api
kegelapan menyedot bayanganmu
: lelaki pulang,
hatinya tak sampai
masuk ke dalam.
Depok, 2011
*dimuat di Suara Karya 18 Februari 2012
Kamis, 09 Juni 2011
just published last week
Puisi : Gita Nuari
SEBUAH CATATAN
setelah yang ada tiada
aku baru mulai merasakan betapa hidup
adalah sebuah pergerakan. seperti angin
di kamarmu, datang mendinginkan dirimu
pergi memanaskan hatimu
meski kau dapat bernyanyi
tapi untuk siapa lagu itu
lelaki yang terpuruk di ujung jalan
barangkali ia penyebab engkau mengurung diri
di antara ada dan tiada
dan kau ingin menjelma jadi sebuah legenda
bagi masa seratus tahun ke depan
untuk dicatat, dilegendakan kembali
sebagai perempuan pendongeng bagi
para lelaki hidung belang
dan tanganmu yang berlumpur itu
menggambarkan sebuah peta pikiran yang
kusut. juga cincin di jarimu yang kau bilang
dari lelaki yang nekat mengikatmu
adalah janji semu yang mungkin akan terbakar
saat ia terkapar di atas ranjang milik
wanita lain
ya, mungkin aku takkan hadir
saat engkau merindukan sebuah taman
yang dapat membalut tubuhmu dari kepungan asap
yang memerihkan mata. tapi jalanmu telah mati
juga arah yang menuju taman itu telah tertutup
ilalang. dan kau tak mungkin menyibaknya dengan
tanganmu yang berlumpur itu, yang tiba-tiba
mengeras seperti batu
aku akan membiarkanmu lagi
sampai kau kembali jadi sebuah mimpi
yang kerap muncul dalam tidurku
membawa ranting kering dimana pada tangkainya
menggelantung bangkai pikiranku
yang tak sudi kau dengar sebelumnya.
Depok, 2011
MATAHARI DI JARI MANISMU
aku melihat di jari manismu matahari melingkar
seperti akar kehidupan yang dirindukan para
pecundang. tapi kau meninggalkan perahumu
begitu saja tanpa ikutan atau tonggak di pantai
pelangi menyepuh rambutmu. anak-anak mengarak
obor di jalan raya, membentuk iring-iringan
seperti burung bangau di atas awan nan kering
seperti mencari keabadian di antara belukar hidup
yang bergelombang
kuaminkan setiap langkah. kota-kota yang tergerus
di wilayah yang tandus mengulum wajah-wajah letih
biarlah keringatku menjadi lembaran surat
agar langkah tetap kembali ke rumah.
Depok, 2011
MENUAI BAYANGANMU
aku menuai bayanganmu dari dinding
pintu sampai ujung sungai. tak betah lagi aku
sebagai busa yang hanya bisa menyimpan
bayangmu sekejap. berilah aku langit sepotong
agar aku punya awan. berilah aku laut sepotong
agar aku punya gelombang
kini aku telah jadi tangkai di halaman
rumahmu. terayun-ayun oleh tingkah burung-
burung liar. aku ingin tertanam di dadamu
dengan air sungai yang terus mengalir
dari pori-porimu
maka aku akan tumbuh selalu di tubuhmu.
Depok, 2011
SEEKOR KUPU KUPU
seekor kupu-kupu terperangkap
di dalam komputer menabraki dinding monitor.
segelas kopi menyulap pagi jadi hitam,
seperti rambutmu yang engkau geraikan ke udara.
jam 9 aku harus ke rumah sakit, katamu. menjenguk orang-orang
yang kehilangan matahari.
aku titip slang infus dan oksigen.
jiwa ini begitu pengap
oleh propaganda kepalsuan, kataku.
langkahmu di teras tanpa jejak.
begitu cepat kehilangan bayang. kehadiran sering sungsang.
kopi hitam dalam gelas mengapungkan aroma gamang.
jalan-jalan dilintasi para pelayat nasib.
mereka meneriaki mimpinya
yang terbakar semalam.
sudah dapatkah slang infus
untuk jiwaku yang ikut terjebak di dalam komputer
kehidupan yang rancu ini?
Depok, 2011
Senin, 09 Mei 2011
Yang Tertinggal : sudah dimuat belum dipublish
Puisi Gita Nuari
RENCANA
sudah kau semir sepatumu. tapi diluar
hujan akan melunturkan semua lapisan semu
kenapa harus ketemu jam 9 pagi? bukankah
lebih baik jam segitu ada dibalik meja kerja
merenungkan masa depan yang monoton
lalu merubahnya dengan menu kerja
yang lebih baik. lalu kita berdemo
di sepanjang kota, menyumbat perekonomian
para pelipat nasib kita?
anak-anak kita rajin mengacungkan tangan
di kelas, menuding gurunya malas tersenyum
mereka merasa kepalanya dijejali tumpukan cita-cita
sebuah masa depan yang belum jelas, bisa
terbang seperti pesawat. ah, anak-anak kita
adalah simbol kehidupan. akar rumah tangga
yang spesifik. kenapa harus kita kenakan
mereka baju perang di dalam rumah?
Depok, 2010
RUMPUT
rumput-rumput setiap hari menyimpan
jejak orang yang menginjaknya. hujan
hanya membasuh, tak bisa mengasuh
maka ketika kita butuh sinar surya,
rumput-rumput menyulapnya jadi duri
dipunggung dan dikaki kita
seseorang menulis namanya di batu
berharap ada yang mengenalinya sebagai
pejantan yang tak pernah kalah. tetapi
di dalam saku hatimu, pejantan itu, tak lebih
hanya sebuah kepompong
yang tak punya ruang
Depok, 2010
TAMAN
di taman ini burung-burung bersayap besi
bunga-bunga membusuk di tong sampah
ada jejak berdarah di dalam tas, aromanya
menyebar di seantero jamban. cinta lumpuh
digerus kegelapan sepanjang tahun
ada rindu mengering di ujung jembatan
orang-orang saling bertepuk tangan
orang-orang saling mengucap salam
tapi dimatamu, lagi-lagi matahari meledak, jadi
serpihan yang mengganggu langkah menuju peradaban.
Depok, 2010
KABAR
kabarmu sekarang ada di benua biru
tiap pagi kotamu diguyur badai salju
burung-burung sangat malas berkicau
cuaca mengukung dan mengurung
kau sendiri merasa hidup dalam tempurung
dari jendela kau hanya bisa melihat
duniamu hilang warna, memutih seperti
timbunan kapas. kulitmu bersisik karena
dingin yang menggigit. ingatkan bahwa
di lembang aku juga merasakan hatimu?
indonesia negeri kita, tanah air moyang
kita. seburuk apapun negeri ini, aku akan
beranak pinak di sini. menuai kehidupan
dengan kepala tegak. merajut mimpi-mimpi
dengan cahaya keyakinan dan kepercayaan.
Depok, 2010
KAKU
diterik paling rawan, aku dingin melihatmu
membiarkanmu jadi bulan-bulanan waktu
tak ada jembatan kau langkahi, tak ada
bukit terjal kau tapaki. hidupmu layaknya
kayu yang dimakan rayap. pohon yang
meranggas dimamah cuaca. kakimu selalu
terbenam di lumpur paling kental, tanganmu
diborgol kerangkeng kehidupan. ada api
tapi kau tak membakarnya, ada arus
tapi kau tak mengayuhnya ke arah yang benar
dunia apa yang sedang kau bangun, saudaraku?
kau lihat, laut kian mengecilkan daratan!
Depok, 2010
Sabtu, 07 Februari 2009
Puisiku : MATI SEPERTI PUISI
aku tak pernah sampai ke hulu untuk mencari
ruang isterah bagi kepenatan yang datang merejang
gelombang yang kuanggap pemandu sampanku
ternyata telah menyudutkan aku ke arah entah
ibu, rentangan cakrawala adalah kasih sayangmu
tapi mungkin kelak aku hanya tinggal sebagai
kepompong kering di dalam tabung waktu. percuma
aku berteriak jika badai lebih kuat
dari pekikanku sendiri
tak ada sesaji lagi bagi kepenatanku ini kali
tapi doamu begitu pasti memberi jalan lapang
ke arah yang teduh meski pada akhirnya
semua bendera harus aku cabut dari atas
ubun-ubunku. sehingga aku tak merasa bersalah
jika aku ingin mati seperti puisi
yang tak pernah dipahami oleh siapapun.
Jakarta, 2009
Puisiku : AKU DATANG PADAMU
aku datang padamu
seperti ketika bayi baru lahir
tapi aku tak malu padamu
karena hanya engkau
yang bisa melihatku
inilah diriku, segumpal
daging dari zaman manusia
yang kehilangan rasa dan jiwa
wahai sang waktu
terimalah kebugilanku
jernihkan kembali mataku
agar aku dapat memilih
pakaian mana yang harus
kupakai dan sepatu mana
yang mesti kukenakan
di dunia aku terlalu buta
semua yang engkau sodorkan
kurebut tanpa seleksi lagi
kuambil begitu saja dengan
dasar aji mumpung. tapi setelah
semua melekat di tubuhku
ternyata malah menyesatkan
dan mengotori pikiranku
lepaskanlah semua atribut
yang menempel di diriku
dan ijinkan aku mengulang
kehidupan ini dari bayi lagi.
Jakarta, 2009
Puisiku : LELAKI
lelaki bersarung angin
berdiri di tungkai waktu
dari pori-porinya keluar
nanah api. amisnya
mengasinkan seisi danau
kini, lelaki itu ada dihadapanku
mencopot tangannya
mencopot kakinya
mencopot kelaminnya
lalu mencongkel matanya
namun ketika ia hendak
mencopot kepalanya, tiba-tiba
pikirannya berubah, “mestinya
otakku yang harus dicuci.
bukan merubah bentuk,” katanya
lalu ia berjalan hanya membawa
kepalanya yang tak berfungsi itu
namun sungguh dia merasa senang,
tuhan telah membuka tangannya
di pintu waktu.
Jakarta, 2009
Puisiku : SUARA
suara sungai suara angin suara kertas suara daun
terdengar di atas ranjang. direkam bulan
suara hirup suara tiup suara datang suara pergi
terdengar dari dalam kereta. diserap matahari
yang demo yang tamu yang cium yang selingkuh
tumpah di jalan. ditonton anak-anak balita
yang memberi yang diberi yang membelot yang sejalan
berkumpul di warung. menjual jiwa
saling tuding saling tikam saling rajam saling pejam
dicatat dalam kota. cahaya lampu memotretnya
dari arah kuburan. pasrah didenda sabar ditampar
aroma mayat diarak bulan ke ujung-ujung malam
pasar dibakar cinta diadopsi. lidah sungsang
dipaksa bicara. rakyat kehilangan hak dibilang mati
polisi bernyanyi dibilang banci. bumi gonjang-ganjing
sepi menangis ramai dicekal. tangan-tangan menadah air
mana diri mana hati mana budi pekerti. aku di sini
engkau di situ. minta susu air laut yang diberi. ah,
tuhan dibaris awal ditinggal-tinggal. tuhan dibaris
akhir disebut-sebut. kita berlari. terus berlari!
Jakarta, 2009
Puisiku : RISAU
inilah yang kutakutkan, batu-batu
berluncuran dari pikiranku,
menindih istana jiwa
yang baru kubangun
di sudut yang jauh
kau tertawa. memainkan mata
ke segala arah
tapi tak tahu dimana aku berada
inilah yang kutakutkan
batu-batu itu bukan lagi runcing
tapi berduri dan mengandung
panas api membakar kesepianku
di jalan berdebu
(aku ingin jadi demonstran saja
untuk hatiku sendiri) lalu membakar
bendera-bedera kasih
yang kini berkibar dipuncak kerinduanku
inilah yang kutakutkan, batu atau apa
tak bisa mencegahku
untuk membunuh siapa
setelah kekalahan ini.
Jakarta, 2009
Senin, 12 Januari 2009
Puisiku : Puisi Senin Pagi
Dilaut kaumelihat matahari merosot ke bumi,
Didarat kau melihat kegelapan tersungkur kedalam kabut
Kau memilih buih ombak
Sebagai jejak kekasihmu telah lewat
Selongsong waktu kau isi dengan menunggu,
Tapi kau tak tahu kapan buih itu menjelma kata kata
Untuk menyapanya
Burung camar turun ke tiang kapal
Angin membangunkan kain-kain layar
Gelombang tak henti menampar
Di atas geladak hatimu memar
Aku melihatmu duduk diantara
Laut dan darat, pada laut kau pasrah
Pada darat kau berserah,
Aku tak tau dibagian mana hatimu terbelah?
Puisiku : Menolak Bayang Bayang
Katamu dibalik kerudung pagi, ada malam yang tak pernah gelap
Karena cahaya embun yang rimbun
Memantul sepanjang dusun
Aku ingin berbagi rasa seperti karat pada besi
Maka jangan pergi, lelangit akan kuyup digetar tanganmu,
Juga jangan ada bayangan ketika kita beradu pandang.
Suhu ini, memekarkan seluruh rumah kerang di lautan
Ada gemuruh yang tak terdengar di dalam dadamu,
Aku tahu sejak kau dilahirkan untukku, katamu.
Seperti apa gerhana ketika kita tertidur?
Mungkinkah semua pintu yang ada di surga terbuka?
Aku ingin berkata jujur padamu. Seperti pelangi pada warnanya.
Sungai akan mengalir membawa cahaya ketika dunia ini terbenam
Tapi sekali lagi, jangan ada bayangan
Ketika kita beradu pandang.
Puisiku : MUSIM MENYALAKAN API
mengacung ke atas
memanaskan langit
gerangan siapa di bumi yang lain
merubah musim jadi bara?
bukankah tangan kitaterikat oleh adat
dan kaki kita terjejakdi teras hakikat?
Depok, 2006/2008
Puisiku : SEKELOMPOK BURUNG TERBANG
melukis wajah tuhan
ada petir dan badai
daun nyiur digerogoti tukai
(tapi aku mensyukuri irama penghabisan ini)
Depok, 2006/2008
Puisiku : IN MEMORIAM MAROELI SIMBOLON
dengan si cantik temanmu,
temanku juga. "aku mau cari
istana, tempat tinggalku
kelak," katamu
lalu kau duduk mengatur jiwa
aku suguhi kau pulau
lalu kau berenang
dengan segala pukau
"ah, gila! di sini kau mandi
dengan air aqua. dingin
sekali!" pekikmu riang
kutunjuki kau rumah
dengan pintu menghadap
ke sawah. "kau tahu' kan,
aku petani bahasa, mana bisa
aku menanam palawija!" serumu
diambang senja
istana idaman
tak ada di citayam
kau pulang dengan
terseok-seok bawa badan
KRL membawamu kembali
ke jalan raya cikini
enam bulan dari waktu itu
kita jarang bertemu. si cantik
temanmu, temanku juga, mengabari
kau terbaring di rumah sakit
terbungkus berbagai penyakit
aku menjengukmu menjelang magrib
"coba lihat, siapa yang datang?
apakah kau kenal, sayang?"
bisik istrimu yang setia menunggu
matamu terkejap, dadaku terkoyak
melihat engkau terbujur
tanpa ucap
kau sempat lewati malam natalmu
di ruang tanpa pohon terang
kau sempat lewati malam tahun baru
tanpa gebyar puisi-puisimu
kau lewati semua kesunyian
kau lewati semua keinginan
namun januari tetap basah
kau rebah kembali ke tanah
"istanaku tak ada di citayam.
istana abadiku ada di medan"
aku dengar bisikkanmu dari ilalang
yang kau buang.
Depok, 2006/2008