Tampilkan postingan dengan label puisiku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisiku. Tampilkan semua postingan

Jumat, 08 Maret 2013

Puisi tentang Manila, Filipina

Dimuat di Harian Suara Karya, Sabtu 26 Januari 2013


Araneta Coliseum

alat-alat musik yang pasrah
sunyi sebelum bunyi
ini menu kalbu, jika dimainkan rasa damai 
seperti aliran air di pematang
o, gesekan biola itu
seperti suaramu membisik di telingaku

                              * Filipina, Mei 2012



Manila Cathedral

orang-orang bercermin 
di bawah patung
senyumnya menggantung
di pintu-pintu awan.

                              * Filipina, Mei 2012



Di Persimpangan Intramuros
                    :wima

di persimpangan Intramuros
ada gedung yang diabaikan
dihuni sejarah  dan rasa kecut di mata
aku ambil gambar daun di atas sungai Pasiq melewati jembatan,
angin kencang menampar dan wajahmu jenaka 
di pelupuk mata aku rindu kamu pastinya kamu ada di sini.

                                   * Filipina, Mei 2012



Mahkota Air Di Kepalamu

air mancur berdansa di Rizal Park
dan aku melihat ada mahkota air
di kepalamu. 
sedang di latar belakang kudengar 
seakan Jose Rizal sang penyair pemberontak itu 
berorasi dengan puisi
kita makan di mana, katamu Chinatown terbayang, 
sekian langkah akan sampai, tapi sudahkah kita 
telepon Jakarta, mempertanyakan masihkah demo 
jadi menu sehari-hari?
aku ingin semua manusia mengenakan mahkota air 
agar selalu dingin dan sejuk kepala dan hatinya.

                                   * Filipina, Mei 2012




Diosdado Macapagal International Airport

bandara kering, seperti baju lapuk 
yang dijemur
aku turun dengan wajah 
yang baru mencangking sejuta keinginan di antara 
benua-benua yang subur dalam ingatan
dari tempat ini, dua jam ke Manila nyenyakkah tidurmu? 
aku rindu batagor dan sambal petis. 
tapi lapar ini telah mengirimkan 
gambar-gambar tangis saudaraku 
yang kehilangan hak
di tanah airnya sendiri
oh, tanah airku. jangan sampai tersulap 
jadi rumah para babu!

                                   * Filipina, Mei 2012




Di Rizal Park

di Rizal Park angin berjuang membentuk dingin. 
namun kulitku tetap kering 
dan mata seakan berdebu 
burung-burung bertukar tempat
di dahan cemara
di sini, ada bau puisi perjuangan
tapi begitu lebatnya tabir mengurung
sebegitukah hukum terkulum dendam?
aku melihat awan tak pernah 
bisa menggambar tuhan. 
tapi di matamu, wima selalu ada 
peta yang memudahkan
aku kembali menemukan jalan pulang
di Rizal Park, sepasang kaki berdiri
menghadap jalan. menghitung jarak antara 
Roxas Boulevard dan Intramuros siapa yang menunggu? 
mungkin. mungkin.seorang kekasih 
yang baru dikenalnya.

                                   * Filipina Mei 2012

Sabtu, 03 Maret 2012

PUISI FEBRUARI


Puisi Gita Nuari


JAKARTA

kota ini berkaki seribu jembatan

para urban memasang tenda di bawahnya

ada manusia menjelma tikus

ada tikus menjelma srigala

pada saat berkumpul, bingunglah aku

sebab tak bisa membedakan

satu sama lainnya

di lima wilayahnya tumbuh pohon benalu

bergelayut di pintu-pintu kehidupan

anak-anak meniup terompet kelaparan

suaranya parau di depan pintu gerbang

rumah para pengusaha dan penguasa

mereka dihiraukan. dianggapnya hanya

sebagai kebisingan semata

kota ini berkaki seribu jembatan

tapi hanya untuk mereka yang mendirikan

dan merobohkannya kembali

sedang yang jadi korban

tentu mereka yang ada di bawahnya.

Depok, 2011


LELAKIKU

lelakiku, di penghabisanku nanti

pintu-pintu akan terbuka tanpa kuminta

tak ada yang bisa kaulakukan

kecuali memilih doa

dan kembang bagi kuburku

lelakiku, aku telah melihat berbagai jalan

tapi aku tak tahu akan lewat mana

sebab ruhku sudah ada yang menuntunnya

dan aku cuma menuntun awan dan angin

masuk ke dalamnya

lelakiku, tanam tubuhku seperti menanam

palawija di lereng dunia

tabur kuburku dengan butiran doa

bukan dengan butiran airmata

sebab butir kepalsuan itu

cuma jadi kerikil nantinya.

Depok, 2011


PUKUL 10.15 PAGI

pagi menyeruak mengusung bara

di setiap tempat keberangkatan,

waktu diperdebatkan. di stasiun,

orang-orang tak lagi santai

mereka kerap bergegas hanya untuk

mencari sebatang tusuk gigi

seekor anjing melintas di depan toko. lalu

menggonggong. orang-orang panik

seorang bocah menyembunyikan mainannya

di belakang ibunya

matahari menggelepar di cakrawala

teriknya disapu oleh tukang sapu jalanan

seorang polisi memaki seekor semut

yang berenang di dalam gelas kopinya

seorang gadis berjalan di tengah rel kereta

langkahnya tak mengandung arah

matanya tak seluncur anak panah

hendak ke mana gerangan?

jakarta sedang mendidih, dis

jangan ke sana. datang saja ke perpustakaan

buku-buku bisa kau buat panduan

isinya tidak membuat bebal pikiran

datanglah ke mana, asal jangan jakarta

tapi jangan bawa rasa ingin bunuh diri!

Depok, 2011


LELAKI PULANG

bulan di senggamai awan

malam jadi temaram

pada bayangan dirimu

kutemukan senyummu

mengalirkan belerang

semua merugi. langit,

tak mungkin bawa pelangi

dan embun tak lagi basah

aku bawa senyummu pulang

melalui semak api

kegelapan menyedot bayanganmu

: lelaki pulang,

hatinya tak sampai

masuk ke dalam.

Depok, 2011


*dimuat di Suara Karya 18 Februari 2012

Kamis, 09 Juni 2011

just published last week

Puisi : Gita Nuari


SEBUAH CATATAN


setelah yang ada tiada

aku baru mulai merasakan betapa hidup

adalah sebuah pergerakan. seperti angin

di kamarmu, datang mendinginkan dirimu

pergi memanaskan hatimu


meski kau dapat bernyanyi

tapi untuk siapa lagu itu

lelaki yang terpuruk di ujung jalan

barangkali ia penyebab engkau mengurung diri

di antara ada dan tiada

dan kau ingin menjelma jadi sebuah legenda

bagi masa seratus tahun ke depan

untuk dicatat, dilegendakan kembali

sebagai perempuan pendongeng bagi

para lelaki hidung belang


dan tanganmu yang berlumpur itu

menggambarkan sebuah peta pikiran yang

kusut. juga cincin di jarimu yang kau bilang

dari lelaki yang nekat mengikatmu

adalah janji semu yang mungkin akan terbakar

saat ia terkapar di atas ranjang milik

wanita lain


ya, mungkin aku takkan hadir

saat engkau merindukan sebuah taman

yang dapat membalut tubuhmu dari kepungan asap

yang memerihkan mata. tapi jalanmu telah mati

juga arah yang menuju taman itu telah tertutup

ilalang. dan kau tak mungkin menyibaknya dengan

tanganmu yang berlumpur itu, yang tiba-tiba

mengeras seperti batu


aku akan membiarkanmu lagi

sampai kau kembali jadi sebuah mimpi

yang kerap muncul dalam tidurku

membawa ranting kering dimana pada tangkainya

menggelantung bangkai pikiranku

yang tak sudi kau dengar sebelumnya.

Depok, 2011


MATAHARI DI JARI MANISMU


aku melihat di jari manismu matahari melingkar

seperti akar kehidupan yang dirindukan para

pecundang. tapi kau meninggalkan perahumu

begitu saja tanpa ikutan atau tonggak di pantai


pelangi menyepuh rambutmu. anak-anak mengarak

obor di jalan raya, membentuk iring-iringan

seperti burung bangau di atas awan nan kering

seperti mencari keabadian di antara belukar hidup

yang bergelombang


kuaminkan setiap langkah. kota-kota yang tergerus

di wilayah yang tandus mengulum wajah-wajah letih

biarlah keringatku menjadi lembaran surat

agar langkah tetap kembali ke rumah.

Depok, 2011


MENUAI BAYANGANMU


aku menuai bayanganmu dari dinding

pintu sampai ujung sungai. tak betah lagi aku

sebagai busa yang hanya bisa menyimpan

bayangmu sekejap. berilah aku langit sepotong

agar aku punya awan. berilah aku laut sepotong

agar aku punya gelombang


kini aku telah jadi tangkai di halaman

rumahmu. terayun-ayun oleh tingkah burung-

burung liar. aku ingin tertanam di dadamu

dengan air sungai yang terus mengalir

dari pori-porimu

maka aku akan tumbuh selalu di tubuhmu.

Depok, 2011


SEEKOR KUPU KUPU


seekor kupu-kupu terperangkap

di dalam komputer menabraki dinding monitor.

segelas kopi menyulap pagi jadi hitam,

seperti rambutmu yang engkau geraikan ke udara.


jam 9 aku harus ke rumah sakit, katamu. menjenguk orang-orang

yang kehilangan matahari.

aku titip slang infus dan oksigen.

jiwa ini begitu pengap

oleh propaganda kepalsuan, kataku.


langkahmu di teras tanpa jejak.

begitu cepat kehilangan bayang. kehadiran sering sungsang.

kopi hitam dalam gelas mengapungkan aroma gamang.

jalan-jalan dilintasi para pelayat nasib.

mereka meneriaki mimpinya

yang terbakar semalam.


sudah dapatkah slang infus

untuk jiwaku yang ikut terjebak di dalam komputer

kehidupan yang rancu ini?

Depok, 2011


source link here

Senin, 09 Mei 2011

Yang Tertinggal : sudah dimuat belum dipublish


Puisi Gita Nuari


RENCANA

sudah kau semir sepatumu. tapi diluar

hujan akan melunturkan semua lapisan semu

kenapa harus ketemu jam 9 pagi? bukankah

lebih baik jam segitu ada dibalik meja kerja

merenungkan masa depan yang monoton

lalu merubahnya dengan menu kerja

yang lebih baik. lalu kita berdemo

di sepanjang kota, menyumbat perekonomian

para pelipat nasib kita?


anak-anak kita rajin mengacungkan tangan

di kelas, menuding gurunya malas tersenyum

mereka merasa kepalanya dijejali tumpukan cita-cita

sebuah masa depan yang belum jelas, bisa

terbang seperti pesawat. ah, anak-anak kita

adalah simbol kehidupan. akar rumah tangga

yang spesifik. kenapa harus kita kenakan

mereka baju perang di dalam rumah?


Depok, 2010


RUMPUT

rumput-rumput setiap hari menyimpan

jejak orang yang menginjaknya. hujan

hanya membasuh, tak bisa mengasuh

maka ketika kita butuh sinar surya,

rumput-rumput menyulapnya jadi duri

dipunggung dan dikaki kita


seseorang menulis namanya di batu

berharap ada yang mengenalinya sebagai

pejantan yang tak pernah kalah. tetapi

di dalam saku hatimu, pejantan itu, tak lebih

hanya sebuah kepompong

yang tak punya ruang


Depok, 2010


TAMAN

di taman ini burung-burung bersayap besi

bunga-bunga membusuk di tong sampah

ada jejak berdarah di dalam tas, aromanya

menyebar di seantero jamban. cinta lumpuh

digerus kegelapan sepanjang tahun


ada rindu mengering di ujung jembatan

orang-orang saling bertepuk tangan

orang-orang saling mengucap salam

tapi dimatamu, lagi-lagi matahari meledak, jadi

serpihan yang mengganggu langkah menuju peradaban.


Depok, 2010


KABAR

kabarmu sekarang ada di benua biru

tiap pagi kotamu diguyur badai salju

burung-burung sangat malas berkicau

cuaca mengukung dan mengurung

kau sendiri merasa hidup dalam tempurung


dari jendela kau hanya bisa melihat

duniamu hilang warna, memutih seperti

timbunan kapas. kulitmu bersisik karena

dingin yang menggigit. ingatkan bahwa

di lembang aku juga merasakan hatimu?


indonesia negeri kita, tanah air moyang

kita. seburuk apapun negeri ini, aku akan

beranak pinak di sini. menuai kehidupan

dengan kepala tegak. merajut mimpi-mimpi

dengan cahaya keyakinan dan kepercayaan.


Depok, 2010


KAKU

diterik paling rawan, aku dingin melihatmu

membiarkanmu jadi bulan-bulanan waktu

tak ada jembatan kau langkahi, tak ada

bukit terjal kau tapaki. hidupmu layaknya

kayu yang dimakan rayap. pohon yang

meranggas dimamah cuaca. kakimu selalu

terbenam di lumpur paling kental, tanganmu

diborgol kerangkeng kehidupan. ada api

tapi kau tak membakarnya, ada arus

tapi kau tak mengayuhnya ke arah yang benar

dunia apa yang sedang kau bangun, saudaraku?


kau lihat, laut kian mengecilkan daratan!


Depok, 2010

Sabtu, 07 Februari 2009

Puisiku : MATI SEPERTI PUISI

MATI SEPERTI PUISI

aku tak pernah sampai ke hulu untuk mencari
ruang isterah bagi kepenatan yang datang merejang
gelombang yang kuanggap pemandu sampanku
ternyata telah menyudutkan aku ke arah entah

ibu, rentangan cakrawala adalah kasih sayangmu
tapi mungkin kelak aku hanya tinggal sebagai
kepompong kering di dalam tabung waktu. percuma
aku berteriak jika badai lebih kuat
dari pekikanku sendiri

tak ada sesaji lagi bagi kepenatanku ini kali
tapi doamu begitu pasti memberi jalan lapang
ke arah yang teduh meski pada akhirnya
semua bendera harus aku cabut dari atas
ubun-ubunku. sehingga aku tak merasa bersalah
jika aku ingin mati seperti puisi
yang tak pernah dipahami oleh siapapun.

Jakarta, 2009

Puisiku : AKU DATANG PADAMU

AKU DATANG PADAMU

aku datang padamu
seperti ketika bayi baru lahir
tapi aku tak malu padamu
karena hanya engkau
yang bisa melihatku

inilah diriku, segumpal
daging dari zaman manusia
yang kehilangan rasa dan jiwa

wahai sang waktu
terimalah kebugilanku
jernihkan kembali mataku
agar aku dapat memilih
pakaian mana yang harus
kupakai dan sepatu mana
yang mesti kukenakan

di dunia aku terlalu buta
semua yang engkau sodorkan
kurebut tanpa seleksi lagi
kuambil begitu saja dengan
dasar aji mumpung. tapi setelah
semua melekat di tubuhku
ternyata malah menyesatkan
dan mengotori pikiranku

lepaskanlah semua atribut
yang menempel di diriku
dan ijinkan aku mengulang
kehidupan ini dari bayi lagi.

Jakarta, 2009

Puisiku : LELAKI

LELAKI

lelaki bersarung angin
berdiri di tungkai waktu
dari pori-porinya keluar
nanah api. amisnya
mengasinkan seisi danau

kini, lelaki itu ada dihadapanku
mencopot tangannya
mencopot kakinya
mencopot kelaminnya
lalu mencongkel matanya

namun ketika ia hendak
mencopot kepalanya, tiba-tiba
pikirannya berubah, “mestinya
otakku yang harus dicuci.
bukan merubah bentuk,” katanya

lalu ia berjalan hanya membawa
kepalanya yang tak berfungsi itu
namun sungguh dia merasa senang,
tuhan telah membuka tangannya
di pintu waktu.

Jakarta, 2009

Puisiku : SUARA

SUARA

suara sungai suara angin suara kertas suara daun
terdengar di atas ranjang. direkam bulan
suara hirup suara tiup suara datang suara pergi
terdengar dari dalam kereta. diserap matahari

yang demo yang tamu yang cium yang selingkuh
tumpah di jalan. ditonton anak-anak balita
yang memberi yang diberi yang membelot yang sejalan
berkumpul di warung. menjual jiwa

saling tuding saling tikam saling rajam saling pejam
dicatat dalam kota. cahaya lampu memotretnya
dari arah kuburan. pasrah didenda sabar ditampar
aroma mayat diarak bulan ke ujung-ujung malam

pasar dibakar cinta diadopsi. lidah sungsang
dipaksa bicara. rakyat kehilangan hak dibilang mati
polisi bernyanyi dibilang banci. bumi gonjang-ganjing
sepi menangis ramai dicekal. tangan-tangan menadah air

mana diri mana hati mana budi pekerti. aku di sini
engkau di situ. minta susu air laut yang diberi. ah,
tuhan dibaris awal ditinggal-tinggal. tuhan dibaris
akhir disebut-sebut. kita berlari. terus berlari!

Jakarta, 2009

Puisiku : RISAU

RISAU

inilah yang kutakutkan, batu-batu
berluncuran dari pikiranku,
menindih istana jiwa
yang baru kubangun

di sudut yang jauh
kau tertawa. memainkan mata
ke segala arah
tapi tak tahu dimana aku berada

inilah yang kutakutkan
batu-batu itu bukan lagi runcing
tapi berduri dan mengandung
panas api membakar kesepianku
di jalan berdebu

(aku ingin jadi demonstran saja
untuk hatiku sendiri) lalu membakar
bendera-bedera kasih
yang kini berkibar dipuncak kerinduanku

inilah yang kutakutkan, batu atau apa
tak bisa mencegahku
untuk membunuh siapa
setelah kekalahan ini.

Jakarta, 2009

Senin, 12 Januari 2009

Puisiku : Puisi Senin Pagi

Aku melihatmu duduk diantara laut dan darat.
Dilaut kaumelihat matahari merosot ke bumi,
Didarat kau melihat kegelapan tersungkur kedalam kabut

Kau memilih buih ombak
Sebagai jejak kekasihmu telah lewat
Selongsong waktu kau isi dengan menunggu,
Tapi kau tak tahu kapan buih itu menjelma kata kata
Untuk menyapanya

Burung camar turun ke tiang kapal
Angin membangunkan kain-kain layar
Gelombang tak henti menampar
Di atas geladak hatimu memar

Aku melihatmu duduk diantara
Laut dan darat, pada laut kau pasrah
Pada darat kau berserah,
Aku tak tau dibagian mana hatimu terbelah?

Puisiku : Menolak Bayang Bayang

Ada lapisan langit yang menyimpan wangi hujan,
Katamu dibalik kerudung pagi, ada malam yang tak pernah gelap
Karena cahaya embun yang rimbun
Memantul sepanjang dusun

Aku ingin berbagi rasa seperti karat pada besi
Maka jangan pergi, lelangit akan kuyup digetar tanganmu,
Juga jangan ada bayangan ketika kita beradu pandang.
Suhu ini, memekarkan seluruh rumah kerang di lautan

Ada gemuruh yang tak terdengar di dalam dadamu,
Aku tahu sejak kau dilahirkan untukku, katamu.
Seperti apa gerhana ketika kita tertidur?
Mungkinkah semua pintu yang ada di surga terbuka?

Aku ingin berkata jujur padamu. Seperti pelangi pada warnanya.
Sungai akan mengalir membawa cahaya ketika dunia ini terbenam
Tapi sekali lagi, jangan ada bayangan
Ketika kita beradu pandang.

Puisiku : MUSIM MENYALAKAN API

tangan-tangan serempak
mengacung ke atas
memanaskan langit
gerangan siapa di bumi yang lain
merubah musim jadi bara?
bukankah tangan kitaterikat oleh adat
dan kaki kita terjejakdi teras hakikat?

Depok, 2006/2008

Puisiku : SEKELOMPOK BURUNG TERBANG

sekelompok burung terbang
melukis wajah tuhan
ada petir dan badai
daun nyiur digerogoti tukai
(tapi aku mensyukuri irama penghabisan ini)

Depok, 2006/2008

Puisiku : IN MEMORIAM MAROELI SIMBOLON

kau datang ke rumahku
dengan si cantik temanmu,
temanku juga. "aku mau cari
istana, tempat tinggalku
kelak," katamu
lalu kau duduk mengatur jiwa
aku suguhi kau pulau
lalu kau berenang
dengan segala pukau
"ah, gila! di sini kau mandi
dengan air aqua. dingin
sekali!" pekikmu riang
kutunjuki kau rumah
dengan pintu menghadap
ke sawah. "kau tahu' kan,
aku petani bahasa, mana bisa
aku menanam palawija!" serumu
diambang senja
istana idaman
tak ada di citayam
kau pulang dengan
terseok-seok bawa badan
KRL membawamu kembali
ke jalan raya cikini
enam bulan dari waktu itu
kita jarang bertemu. si cantik
temanmu, temanku juga, mengabari
kau terbaring di rumah sakit
terbungkus berbagai penyakit
aku menjengukmu menjelang magrib
"coba lihat, siapa yang datang?
apakah kau kenal, sayang?"
bisik istrimu yang setia menunggu
matamu terkejap, dadaku terkoyak
melihat engkau terbujur
tanpa ucap
kau sempat lewati malam natalmu
di ruang tanpa pohon terang
kau sempat lewati malam tahun baru
tanpa gebyar puisi-puisimu
kau lewati semua kesunyian
kau lewati semua keinginan
namun januari tetap basah
kau rebah kembali ke tanah
"istanaku tak ada di citayam.
istana abadiku ada di medan"
aku dengar bisikkanmu dari ilalang
yang kau buang.

Depok, 2006/2008