Tampilkan postingan dengan label review. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label review. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 29 Oktober 2011

THE MORTAL INSTRUMENTS - The Next King of YA Fantasy Franchise


Mampir ke blog sendiri dan baru sadar sudah lama banget nggak update blog, artinya belum bisa dibilang blogger nih. Blogger sewaktu-waktu, mungkin itu yang cocok.

Kali ini mau ngobrolin buku YA (Young Adult) fantasy favoritku yang luar biasa, KILL IT atau KICK BUTT deh istilahnya :D Setelah Harry Potter habis masa kejayaannya (meski namanya tetap harum sepanjang masa), alias buku sudah terbit semua, film pun sudah final – lalu ada Twilight yang juga hampir habis masa ‘tayang’nya karena buku sudah tamat, film tinggal dua yang terakhir (Breaking Dawn Part I dan II), kira-kira serial buku fantasy apa nih yang bisa menempati tempat kehormatan menggantikan kedua franchise itu?

Maret nanti akan hadir film yang diramalkan akan menjadi salah satu raja franchise YA selanjutnya, yaitu The Hunger Games karya Suzanne Collins. Saya sudah membaca trilogy The Hunger Games, dan review 5 bintang untuk buku ini, untuk penjabaran arena Hunger Games yang luar biasa, kisah para peserta untuk bertahan hidup di dalam arena yang dituliskan dengan mendetail dan fantastis, lengkap dengan intrik keluarga, persahabatan, dan kisah cinta tak berbalas yang menggugah hati (ya, menurut saya Katniss Everdeen tidak pernah benar-benar mencintai Peeta Mellark). Tapi kekurangan dari buku ini adalah, kisah berulang tentang arena Hunger Games di buku kedua tanpa ada sesuatu yang ‘baru’ dan bahkan perang dan konflik politik di buku ketiga cenderung tidak menarik hati para remaja (yang merupakan target pasar buku YA fantasy). Kita tunggu saja jika filmnya berhasil mengadaptasi bukunya dengan lebih baik, apalagi kehadiran Jennifer Lawrance (Katniss) dan Josh Hutcherson (Peeta) yang menurut saya adalah perfect cast!

Nah mengambil kekurangan-kekurangan dari trilogy Hunger Games, ada buku yang menurut saya SEMPURNA dari segala aspek, yaitu THE MORTAL INSTRUMENTS karya Cassandra Clare. Istilahnya, buku ini adalah paket komplit dari semua pecinta YA fantasy, karena membahas Penghuni Dunia Bawah yaitu bangsa vampir, warlock, manusia serigala dan peri. Protagonis dari buku ini adalah bangsa Nephilim atau yang disebut Pemburu Bayangan, mereka adalah polisi bagi para Penghuni Dunia Bawah dan pembasmi iblis, dengan tujuan untuk menjaga kedamaian dunia.



Kalau ada review book bisa dirating 10, 10 deh buat THE MORTAL INSTRUMENTS. Dari konflik keluarga, teman, percintaan, orangtua, semuanya ada disini. Diceritakan dengan alur cepat dan menanjak, bikin kita tidak mampu meletakkan buku ini sampai halaman terakhir habis dibaca. Award yang didapat THE MORTAL INSTRUMENTS pun bejibun dari seluruh dunia, termasuk prestasi #1 New York Times Bestsellers untuk hampir semua bukunya, yang didapat tidak lama setelah tanggal rilis buku.

THE MORTAL INSTRUMENTS ternyata memiliki saudara, yaitu prekuelnya yakni THE INFERNAL DEVICES, yang masih menceritakan tentang Pemburu Bayangan namun menariknya bersetting London di era Victoria.

I wont talk much about this book, you should read it so you can agree with me. Highly recommended and satisfaction guarantee!

Baca yah, kalau nggak kamu termasuk golongan orang-orang merugi :p

Jangan lupa juga gabung di The Mortal Instruments Indonesia www.mortalinstrumentsind.grou.ps dan follow twitternya @TMIndo

Kamis, 23 Juni 2011

BOOK REVIEW : Blue Bloods - Melissa de la Cruz


Setelah Twilight Saga booming, buku-buku sejenis yang menceritakan kehidupan vampir pun bermunculan, dengan harapan bisa menyusul sukses Twilight. Sejauh ini buku tentang vampir yang agak lumayan plot ceritanya menurut saya adalah serial Vampire Academy dan Blue Bloods. Bukan berarti saya hobi baca buku yang bertema vampir—agak bosan dengan vampir malah—tapi ada teman yang hobi beli buku jenis ini, dan tak ada salahnya ikutan baca. Lucunya buku-buku vampir yang terbit setelah Twilight, seperti berusaha keras menciptakan klan vampir yang berbeda-beda—namun kreatif—agar bisa unggul dan menarik pembaca. Malah beberapa konflik dan plotnya jauh lebih bagus dibanding Twilight, yang bisa dibilang bacaan ringan. Tapi jangan terjebak dengan resensi menarik yang ada di bagian cover belakang buku, seperti pada buku When Darkness Comes karya Alexandra Ivy. Setelah membaca buku yang saya sebutkan terakhir, ternyata isinya tidak lebih seperti Harlequin versi vampir, dengan tokoh vampir yang sangat dibuat-buat kesempurnaannya (Viper dan Dante).

Blue Bloods karya Melissa de la Cruz, menceritakan tentang Schuyler Van Alen, gadis 15 tahun yang bersekolah di Duchesne High School, sekolah yang sangat prestisius di New York, dengan sebagian besar murid berasal dari keluarga konglomerat di kota itu. Tapi Schuyler tidak pernah merasa cocok berada di Duchesne, karena meski di masa lalu keluarga Van Alen adalah keluarga terpandang dan kaya, mereka mengalami kemunduran dalam strata sosial dan bisa dibilang bangkrut. Schuyler tidak pernah mengenal ayahnya yang sudah meninggal sejak ia lahir. Ibunya sendiri bertahun-tahun tertidur dalam koma di rumah sakit, sehingga Schuyler hanya mengenal neneknya, Cordelia. Mereka berdua adalah yang tersisa dari generasi Van Alen.

Konflik dimulai saat salah satu murid Duschene meninggal dengan dugaan overdosis, namun Jack Force—cowok populer di sekolah itu yang ditaksir Schuyler—mengatakan padanya bahwa kematian Aggie Carondolet disebabkan karena dia dibunuh. Kebingungan Schuyler bertambah karena ia diundang untuk bergabung dengan Komite, sebuah komunitas elit yang bernama resmi Komite Bank Darah New York. Komite sebenarnya adalah komunitas untuk para Darah Biru—sebutan untuk vampir yang menyaru sebagai kaum elite kota New York—dan Schuyler pun sadar kalau dirinya adalah vampir.

Penyelidikan Schuyler dan sahabatnya Oliver Hazard Perry sampai pada dugaan bahwa penyebab kematian misterius Aggie adalah Croatan/Darah Perak. Berbeda dengan Darah Biru yang meminum Darah Merah/manusia, Darah Perak adalah Lucifer dan pengikut setianya yang menemukan pengetahuan bahwa dengan meminum darah vampir lain dan bukannya manusia, bisa membuat mereka makin kuat dan tak terkalahkan. Keberadaan Darah Perak terakhir muncul di tahun terakhir Kekaisaran Roma, tapi kematian-kematian misterius Darah Biru di masa kini membangkitkan kecurigaan bahwa para Darah Perak sudah kembali. Nenek Schuyler, Cordelia, pun meyakini hal tersebut. Dia juga memberitahu Schuyler bahwa Komite percaya Darah Perak sudah tamat, bahkan menghapus catatan-catatan resmi tentang Darah Perak dari sejarah. Komite menyangkal penyebab pembunuhan misterius Darah Biru adalah Darah Perak.

Namun menyadari bahaya yang mengintai dirinya dan para Darah Biru lain, Schuyler berjuang untuk mencari tahu tentang Darah Perak dan cara mengalahkan mereka, meskipun hal ini ditentang Komite. Satu-satunya orang yang mengetahui cara mengalahkan Darah Perak adalah Lawrence Van Alen, kakek Schuyler, yang bahkan tidak pernah Schuyler tahu keberadaannya. Setelah kematian Cordelia yang diserang oleh Darah Perak, Schuyler pun mencari kakeknya di Venesia (cerita Venesia ini ada di buku kedua Blue Bloods, yaitu Masquerade—sudah terbit juga).

Berhasilkan Schuyler meyakinkan orang-orang terdekatnya bahwa Darah Perak sudah kembali? Bagaimana cara Schuyler dan Darah Biru lain melindungi diri mereka dari serangan Darah Perak, apabila Komite sendiri tidak pernah memberi tahu apa kemampuan khusus mereka sebagai vampir, apalagi cara bertarung?

Jika membaca resensi diatas dan berpendapat bahwa Blue Bloods buku yang sangat gelap dan serius, salah besar. Buku ini enak dibaca, dengan penggambaran gemerlap kota New York yang sempurna. Membaca buku ini seperti menonton Gossip Girl, penuh dengan referensi fashion dari perancang terkenal dan tempat-tempat prestius di Manhattan. Kisahnya pun tidak berkisar seputar kehidupan Schuyler Van Alen saja, tapi dengan penulisan point of view orang ketiga, kita diajak mengenal karakter-karakter lain yang berhubungan dengan hidup Schuyler. Ada bumbu cinta, persahabatan, dan persaingan ala remaja NYC yang seru. Konflik masa lalu masing-masing orangtua mereka juga menarik untuk dibaca. Agar lebih dramatis, Melissa de la Cruz pun mengaitkan sejarah nyata Koloni Yang Hilang Roanoke di tahun 1590, sebagai pembantaian yang dilakukan oleh Darah Perak (peninggalan satu-satunya koloni ini adalah satu tonggak bertuliskan Croatan--dipakai sebagai nama lain Darah Perak). Sangat kreatif.

Membaca buku ini rasanya seperti membaca buku sejarah sekaligus majalah fashion n lifestyle. Lumayan lah buat dibaca di waktu senggang, meski tidak semencengangkan buku YA fantasi favorit saya, Mortal Instruments dari Cassandra Clare J

Sabtu, 14 Mei 2011

BOOK REVIEW : Mari Bicara


Buku ini sebenarnya sudah lama terbitnya, tapi ya maklum aku jarang update blog, baru sempat iklan disini :p Kenapa di-iklan-kan? Karena aku menyumbang tulisan di buku ini (sedikitttt, tapi).

Mari Bicara berisi 100 cerita mengenai kisah menjalin komunikasi dari 100 penulis yang tersebar di seluruh Indonesia (aku salah satunya). Penulis cerita di dalam buku ini adalah para pemenang dari lomba menulis tentang problem pasangan (boleh yang masih pacaran ataupun sudah berumah tangga) dan kekuatan komunikasi sebagai cara terbaik untuk menengahi masalah. Tidak dipungkiri memang, apapun masalahnya, komunikasi yang baik menjaga hubungan tetap kokoh berdiri. Komunikasi yang tidak baik, sebaliknya membuat hubungan menjadi memburuk, karena ucapan-ucapan yang kita lontarkan pada pasangan saat emosi, kebanyakan tidak bermaksud dikatakan, namun lebih pada keinginan untuk menyakiti dan menyindir ego pasangan.

100 kisah disini datang dari berbagai macam kalangan. Ada istri tukang becak, istri yang juga wanita karier, dll. Kisah-kisahnya unik, lucu, dan menggugah hati. Yang terpenting dari membaca buku ini, kita bisa mengambil hikmah, pelajaran, kesimpulan atau apapun itu; yang bisa kita coba terapkan untuk diri kita sendiri dan pasangan. Dari pasangan, untuk pasangan.

Jika pernah membaca buku-buku serial Chicken Soup, ya buku ini sejenis lah. Yang membedakan kisah-kisahnya Indonesia asli, dan pelajaran yang bisa diambil sesuai dengan lingkup budaya kita, sehingga lebih kena di hati. Selain itu ada juga kisah-kisah serupa dari selebriti yang tentunya menarik untuk dibaca.

Bisa dibilang ini sumbanganku di dunia yang terdekat dengan posisiku saat ini, yaitu jadi ibu rumah tangga yang baik, yang mengurus suami dan anak. Tapi kalau STAY YOUNG AT HEART tidak apa-apa kan ya? Aku suka bagian diriku yang kadang sengaja menceburkan diri ke dunia remaja. Sekarang ini aku sedang menggodok ide menulis teenlit, bahkan. Doakan cepat selesai dong. Terima kasih. Hehe.



Judul Buku : Mari Bicara
Berat : 320gr
Ukuran : 13,5 x 20 cm
Tahun : 2010
Halaman : 356
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Harga : Rp. 45.000


suasana saat launching buku. tebak aku yang mana?

Oh ya ada iklan TV juga yang dibuat untuk peluncuran buku ini, dan kebetulan aku diajak untuk tampil di iklan-nya. My first TV commercial yess. Kalau mau lihat klik disini yah.