Selasa, 13 Januari 2009

Kristen Stewart Caught Smoking Pot!


Ini nih foto Kristen yang ketahuan menghisap mariyuana di depan rumahnya di Los Angeles. Anak-anak, jangan ditiru yah. Meskipun kelihatannya Kristen melakukan ini untuk merayakan film Twilight yang sudah menghasilkan 168 juta dolar di seluruh dunia, doing something like this making you addicted!


Lebih baik jika kita kecanduan nonton film ajah, seperti my bestfriend Farida, yang sudah menonton Twilight 5 kali di bioskop dan kira-kira puluhan kali di rumah (nonton DVD Twilight bajakan yang dibeli di Plaza Cibubur--yang ini jangan ditiru juga).


Just be a good teenage, just like I was :)

Fenomena lagu Flightless Bird, American Mouth

Flightless Bird, American Mouth

by Iron & Wine


Flightless Bird, American Mouth - Iron & Wine


I was a quick wet boy
Diving too deep for coins
All of your straight light eyes
Wide on my plastic toys

Then when the cops closed the fair
I cut my long baby hair
Stole me a dog-eared map
And called for you everywhere

Have I found you?
Flightless bird, jealous, weeping
Or lost you?
American mouth
Big bill looming

Now I’m a fat house cat
Cursing my sore blunt tongue
Watching the warm poison rats
Curl through the wide fence cracks
Kissing on magazine photos
Those fishing lures thrown in the cold and clean
Blood of Christ mountain stream

Have I found you?
Flightless bird, brown hair bleeding
Or lost you?
American mouth
Big bill, stuck going down…

Perihal lagunya Iron & Wine yang jadi soundtrack Twilight—kamu mungkin tahunya prom dance song, nah nyambung sekarang?? Good—dan tiba-tiba disukai banyak Twilighters, ada yang pengen aku bahas dikit.

Jadi lagu dengan judul Flighless Bird, American Mouth ini dibawakan oleh Iron & Wine, band asal Texas yang kurang gaung di sini. Tapi yang aneh adalah, kok bisa ya lagu berlirik ‘metafora’ yang ngga ada nyambung-nyambungnya sama pesta dansa bisa dipilih melatarbelakangi adegan prom dance Edward dan Bella yang romantis itu? Lihat aja deh lirik yang aku tulis di atas, pake bawa-bawa anak kecil, polisi, trus ada juga anjing, burung, kucing, tikus (kayak hewan-hewan penghuni rumah aku nih..), dimana nyambungnya yah. Paling ngelink-nya hanya karena lagunya easy listening dan membawa kesan romantis, padahal kalo lihat liriknya sih ngga ada yang romantis sama sekali.

Penasaran, aku googling dan nemu Mbak Noran yang punya site noranxnoran.multiply.com yang kasih contekan arti lagu ini.

I was a quick wet boy
(Dia adalah bayi laki-laki yang baru lahir. Baru tau dunia, polos, lugu, nggak tau apa-apaan deh)


Diving too deep for coins
(Namun sedari kecil dia udah diajarkan untuk mengerti bahwa uang itu penting)

All of your street light eyes
(... bahwa uang adalah penerang jalan hidup orang-orang di sekitarnya)

Wide on my plastic toys
(...dan industrialisme & materialisme itu esensial)

And when the cops closed the fair
(Polisi yang dimaksud adalah analogi dari Kedewasaan. Penghancur keriaan masa kecilnya. Kedewasaan datang dan menjemput dia ke kenyataan.)

I cut my long baby hair
(Jadi dia meninggalkan masa kecilnya...)

Stole me a dog-eared map
(...dan mencari petunjuk kemana-mana -- dog's ears, kuping anjing bisa dengar suara ultrasonik. Jadi ia ingin tau hal-hal yang orang lainnya belom tau.)

And called for you everywhere
(Dan yang dia cari itu, sebuah prinsip. Kebenaran)

Have I found you?
(Sudahkan dia menemukannya?)

Flightless bird, jealous, weeping
(Flightless bird, di sini nih kerennya. Lambang Amerika Serikat adalah burung elang botak warna coklat, ingat? Suka ada kok di film-film perang. Flightless bird adalah si elang botak yang nggak bisa terbang, adalah simbol integritas Amerika. Nah, elang ini sedih.)

Or lost you?
(Atau justru kehilangan?)

American mouth
(Apakah kata-kata yang orang - bukan negara ya, tapi seorang Amerika *mungkinkah pak presiden?* - katakan...)

Big pill looming
(... adalah sebuah pil super pahit yang samar-samar dia telan?)

Now I’m a fat house cat
(Sekarang dia sudah apatis. Dia menganggap dirinya adalah seorang pemalas dan tidak pedulian kepada dunia luar)

Nursing my sore blunt tongue
(... yang hidup untuk memanjakan lidahnya yang telah getir terhadap semua rasa dan emosi)


Watching the warm poison rats
(Bisanya cuma menyaksikan penjahat-penjahat kapitalisme, bisa juga koruptor, dan mesin-mesin uang lainnya yang serakah)

Curl through the wide fence cracks
(... yang menyelinap dengan santai di lubang kehancuran sistem yang menganga lebar)

Pissing on magazine photos
(Dia mengutuk pembentukan budaya konsumerisme...)

Those fishing lures thrown in the cold and clean
(... yang memancing masyarakat untuk menjadi materialistis, tanpa belas kasihan)

Blood of Christ mountain stream
(... yang ini gw agak takut ngartiinya, entar SARA lagi. Cuman kalo pendapat gueee, dia menganalogikan tindakan konsumerisme di atas itu adalah sebuah hal yang akan terus mengalir deras, mereka tidak berhenti melakukannya... Mereka akan terus mengejar materi dan kekuasaan. Mereka lupa tujuan hidup yang sebenar-benarnya, yang suci.)

Have I found you?
(Jadi sudahkah dia menemukannya?)

Flightless bird, grounded bleeding
(Oh integritas Amerika yang terpuruk dan berdarah)

Or lost you?
(Atau, dia memang telah kehilangannya...?)

American mouth
(Karena kata-kata yang selalu si "orang" Amerika ini janjikan...)

Big pill, stuck going down
(... akan tetap jadi pil super pahit, super nggak enak, yang terpaksa ia telan dalam-dalam.)


Lihat kan, ga ada cocok-cocoknya sama adegan dansa tsb. Well it shows something, at least. Dari hasil googling lagi, ternyata Kristen Stewart si pemeran Bella Swan yang ngotot agar lagu ini yang jadi prom dance song. Jadi Kristen tampaknya ngefans sama Iron & Wire, atau paling tidak si Kristen ini, ingin menunjukkan dia smart, bisa memilih lagu dengan irama romantis sadis namun dengan lirik penyamaran kegundahan Amerika.

Tapi kaget juga waktu browsing nemu foto Kristen Stewart dengan cueknya menghisap mariyuana dengan seorang teman, di halaman depan rumahnya di Los Angeles. Well, inilah dia kegundahan Amerika. If she thinks that’s her right, she supposed to do it at her locked bedroom, that would make her smart. Karena dia bukan anak muda Amerika biasa kan, dia memerankan Bella Swan--yang banyak cewek akan rela mati demi peran ini, ya nggak?

Senin, 12 Januari 2009

Cerpenku : Aku, Nenek dan Halte Bus

Setiap pagi, aku selalu berada di halte bus untuk menunggu Mas Budi men-jemputku dengan mobilnya. Di halte bus itu selain terdapat beberapa orang yang menunggu bus, terdapat pula seorang nenek tua tengah berjualan koran. Nenek yang dikenal bernama nenek Peni ini, menjual beberapa koran dan beberapa tabloid yang digeletakkan begitu saja diatas plastik. Aku sengaja selalu berada di halte itu setiap pagi karena permintaan Mas Budi.
"Biar kujemput saja, dan kamu tunggu saja aku di halte itu," kata Mas Budi lewat telepon. Karena aku tak mau banyak omong, kuturuti saja permintaan Mas Budi. Dan nyaris dua tahun lamanya aku selalu setia menunggu jemputan Mas Budi untuk mengantarku berangkat ke kantor dengan mobilnya.
Mas Budi ini adalah seorang pria yang sangat aku cintai. Tapi sayangnya, ia sudah beristri. Entah kenapa aku mau berhubungan dengan pria yang sudah beristri? Aku sendiri tak tahu. Cinta memang buta, pikirku. Tapi sebenarnya, aku mulai pusing memikirkan hubungan ini karena tiada kejelasan sikap dari Mas Budi sendiri. Aku hampir-hampir putus asa, pasrah atau meninggalkan Mas Budi. Kalau sudah didera beribu pertanyaan seperti itu, aku jadi salah tingkah dan tidak bisa berbuat apa-apa. Entahlah, aku jadi bingung kenapa aku bisa kecantol dengan Mas Budi begini rupa. Memang tak bisa dipungkiri, kisah ini berawal dari seringnya kami berjumpa. Mas Budi yang bekerja sebagai seorang manager di sebuah perusahaan yang bergerak di bidang ekspor impor, dan kebetulan perusahaannya ada kerja sama dengan dengan perusahaan dimana aku bekerja, jadilah aku dan Mas Budi sering mengadakan pertemuan. Dari urusan kantor sampai ke urusan pribadi. Dengan demikian bermunculan benih-benih cinta yang begitu besar dan menggebu. Sampai akhirnya aku seperti istri simpanan Mas Budi yang terus bergantung kepada aturannya. Dan di halte ini lagi, aku menunggu kedatangannya untuk kesekian kalinya sambil memperhatikan cara nenek Peni menjajaki dagangannya.
"Koran Non, beritanya rame-rame!" begitu cara nenek Peni menawarkan dagangannya padaku. Awalnya aku merasa geli dengan cara nenek Peni menawarkan dagangannya seperti itu, tapi akhirnya aku senang juga dan kuanggap itulah ciri nenek Peni yang tak bisa aku lupakan. Untuk menyenangkan hati sang nenek, akhirnya aku membeli satu buah tabloid wanita. "Korannya nggak sekalian, Non?" tanyanya kemudian.
"Tabloid ini dulu saja, Nek. Buat iseng baca di kantor," sahutku sambil mengeluarkan uang pembayaran.
"Sungguh Non, korannya beritanya rame-rame," tawarnya lagi. "Kok Nenek tahu?" tanyaku sekadar menanggapi.
"Lihat saja foto-fotonya. Ada demo, ada kebakaran, ada tawuran antar warga," ungkapnya polos. Aku nyaris tertawa lepas saat mendengar omongannya. Giginya yang sudah banyak ompong itu mengingatkan aku pada seorang nenekku yang berada di kampong halaman. Belum sempat aku melihat-lihat tabloid yang lain, Mas Budi keburu datang dengan mobilnya. Aku permisi pada nenek Peni, dan tampak ia memperhatikanku tanpa berkedip ketika aku masuk ke dalam mobil yang dikemudiakan Mas Budi.
"Kenapa kamu tersenyum-senyum seperti itu?" tanya Mas Budi sambil menjalankan kembali mobilnya.
"Aku merasa geli melihat cara nenek tadi menawarkan dagangannya."
"Kenapa?"
"Ya lucu saja," jawabku singkat. Lalu sepi. Mobil berjalan biasa saja. Biasanya dia main kebut setelah aku berada di dalam mobilnya. Ini kali sungguh kalem.
"Santy," panggilnya sambil matanya tetap mengawasi ke depan. Aku menoleh ke arahnya, "Apa kamu sudah menemukan jalan lain untuk kelanjutan hubungan kita?" tanyanya kemudian. Senyumku kurasakan tiba-tiba hilang. Urusan kembali rumit. Betapa tidak, aku sudah nekat dijadikan istri keduanya bila Mas Budi benar-benar mau adil. Eh, sekarang malah menanyakan padaku soal 'jalan lain', anehkan! Dan bila itu terjadi tentu akan jadi masalah bagi istri pertamanya. Aku sadar, aku merasa orang yang paling berdosa dalam hal ini. Tapi siapa bisa menentang koderat kalau Tuhan sudah memberi jalan hidup seperti yang kualami sekarang. Meski pada dasarnya tak ada seorang istri pun mengijinkan suaminya kawin lagi, dan wanita mana yang mau dijadikan istri kedua kalau tidak ada masalah lain?
"Jalan lain, maksud Mas?"
"Ya, jalan lain,"
"Tentu menikahlah, Mas!" cetusku. Mas Budi tersentak. "Kenapa? Berat!?"
Mas Budi menoleh, "Bukan begitu, Santy. Kamu tahu kan , keadaanku?"
"Dari dulu aku tahu kalau Mas Budi sudah beristri. Lalu kenapa? Apa Mas menginginkan aku kawin dengan lelaki lain, dan kita bubar secara baik-baik! Begitu maksud Mas?"
Mas Budi hilang suaranya. Wajahnya beku menghadap ke depan. Aku tiba-tiba ingin menangis, tapi mobil Mas Budi tak terasa sudah berhenti di depan kantorku.
Pagi itu, aku kembali berdiri di halte bus untuk menunggu Mas Budi menjemputku. Dan nenek penjual koran itu tersenyum ketika melihat kedatanganku.
"Korannya Non, beritanya rame-rame!" tawarnya seperti itu lagi. "Coba Non lihat, orang-orang yang ada di koran ini, kan semuanya orang-orang jahat. Tapi kenapa ya, matanya tidak ditutup. Dulu, pada zaman nenek muda, kalau ada orang jahat di koran, matanya selalu ditutup. Kenapa sekarang tidak. Bagaimana cara membedakan orang jahat sama orang yang tidak jahat?" lanjutnya dengan nada bertanya.
"Nenek kan bisa baca untuk mengetahui apa yang terjadi di koran itu," kataku sekedar menjelaskan. Nenek itu tiba-tiba tertawa, dan kembali aku melihat ompong giginya.
"Nenek tidak bisa baca, Non," akunya. "Nenek dulu tidak sekolah. Nenek cuma bisa mengaji."
Sebuah bajaj tiba-tiba berhenti di depan halte bus. "Eh, entu cucu Nenek," tunjuknya ke arah seorang anak muda yang membawa kendaraan bajaj. Anak muda itu menyodorkan beberapa tabloid kepada nenek Peni. Lalu tanpa basa-basi anak muda itu ngeloyor pergi membawa bajajnya. "Itu cucu Nenek. Tadinya dia jualan koran di sini, tapi dia tertarik kepingin narik bajaj, terus Nenek disuruh nunggu dagangannya di halte ini. Nenek mau, karena Nenek kasihan sama cucu Nenek, karena kedua orangtuanya, yaitu anak Nenek, sudah meninggal sewaktu terjadi kerusuhan di pasar Ciledug," lanjutnya panjang lebar. Hatiku tiba-tiba saja terenyuh. Tapi kulihat nenek itu begitu tegar. Aku ingin seperti dia, tegar mengalami berbagai macam cobaan.
Sepuluh menit kemudian, Mas Budi muncul dengan mobilnya. Aku masih tertarik dengan cerita nenek Peni, tapi tidak mungkin aku selalu berada di situ jadi pendengar setia lakon hidupnya. Aku sendiri pun merasa perlu ada orang yang mau membantu mencari jalan keluar seperti Mas Budi sebut 'jalan lain' untuk masalah yang sedang kami hadapi.
"Aku baru menemukan jalan lain untuk kita berdua," cetusnya setelah membawa mobilnya jauh dari halte bus. Aku sebenarnya sudah bosan dengan pendapat-pendapat Mas Budi yang terkesan menguntungkan dirinya sendiri. Tapi 'jalan lain' yang dia bawa ini, mungkin lebih masuk akal atau bisa melegakan pikiranku yang selama ini terus-menerus di 'belenggu' bila yang akan disampaikan nanti dapat memuaskan hatiku.
"Jalan macam apa, Mas?"
Mas Budi menoleh padaku, "Rumahku yang di Bintaro, tak ada yang menempati. Aku ingin kamu yang menempati dan mengurusinya. Sekaligus rumah itu sebagai hadiah ulang tahunmu, dariku."
"Maksud Mas, biar aku tinggal di situ?" potongku karena aku tak paham maksudnya.
"Iya, dan nanti setiap dua hari sekali, aku akan pulang ke Bintaro untuk menemuimu. Bagaimana, kamu setuju?"
Mukaku seakan ditamparnya. Aku tak menghendaki ini. Aku tak menginginkan harta ataupun yang lainnya. Kecuali aku dinikahi secara resmi. Itu saja. Tinggal dimanapun aku tak masalah. Yang penting aku jadi istri yang sah, bukan sekedar pacar gelap seperti sekarang ini. Aku tak mau dicap selingkuh dengan suami orang. Aku tak mau. Aku pusing. Aku tak bisa berkomentar apa-apa kecuali menghapus air mataku yang menetes di kedua pipiku ketika aku turun dari mobil Mas Budi.
** *
Pagi itu, pikiranku masih kusut. Pekerjaanku di kantor cukup padat, menumpuk. Seperti persoalan-persoalan di ruang pengadilan, begitu kompleks. Aku kelihatan diam, tapi hatiku seperti dipenuhi suara-suara pasar, atau seperti sebuah stasiun yang begitu bising dan sumpek. Aku berangkat lebih pagi agar semua pekerjaanku bisa kuselesaikan satu persatu. Soal Mas Budi, sudah aku SMS agar ia tak menjemputku pagi ini di halte yang biasa. Aku hari ini mau sendiri, mau lebih cepat tiba di kantor. Akan tetapi, setibanya aku di lokasi tempat halte bus itu berada, aku tak melihat halte bus itu berdiri, melainkan halte bus itu telah roboh ke tanah dengan atap yang hancur berkeping-keping. Sedangkan di bawah halte yang roboh itu berserakan pecahan kaca mobil. Pot-pot bunga yang berada di samping halte itu tak luput berantakan seperti terkena benturan yang cukup keras. Aku melihat selembar plastik sebagai alas untuk berjualan koran nenek Peni tampak tertindih atap halte yang sudah tak karuan bentuknya. Orang-orang berkerumun saling membicarakan perihal kejadian yang sebenarnya. Seorang wartawan sedang memotret dari beberapa sudut..
" Ada kejadian apa, Bang? Apa ada demo kemarin sampai-sampai halte bus dirobohkannya?" tanyaku memancing untuk sekadar mencari tahu.
"Halte bus ini kemarin siang, diseruduk bus kota yang supirnya ugal-ugalan."
Aku terkejut, " Ada yang ketabrak, Bang?"
"Tiga orang meninggal seketika!" ungkap wartawan itu. Aku tambah penasaran.
"Penumpang bus, atau pejalan kaki yang meninggal?" kejarku.
"Dua orang calon penumpang yang sedang menunggu bus, dan satu lagi seorang nenek-nenek yang sedang berjualan koran di bawah halte itu," jelas si wartawan sambil memotret bagian-bagian lain. Napasku terasa sesak. Tubuhku mendadak gemetar.
Oh, betapa malang masib nenek penjual koran itu, renungku. Nenek Peni yang baru kukenal tapi telah bercerita banyak tentang anak dan cucunya. Sedangkan aku belum sedikitpun bercerita kepadanya tentang diriku yang setiap hari menunggu lelaki bermobil sedan yang sering menjemputku di halte bus itu.
Nenek Peni keburu dipanggil oleh Yang Maha Kuasa. Rasanya, seperti ada yang ikut lepas setelah mendengar nenek Peni meninggal. Entah itu apa. Dan di mana Mas Budi, apakah dia telah menemukan 'jalan lain' lagi untuk mengatasi diriku yang semakin terpuruk di dalam penantian. Sepertinya, aku harus lebih teliti dan berhati-hati setelah tahu bahwa hidup ini penuh dengan misteri. ****

Jakarta , 2003/2005

Puisiku : Puisi Senin Pagi

Aku melihatmu duduk diantara laut dan darat.
Dilaut kaumelihat matahari merosot ke bumi,
Didarat kau melihat kegelapan tersungkur kedalam kabut

Kau memilih buih ombak
Sebagai jejak kekasihmu telah lewat
Selongsong waktu kau isi dengan menunggu,
Tapi kau tak tahu kapan buih itu menjelma kata kata
Untuk menyapanya

Burung camar turun ke tiang kapal
Angin membangunkan kain-kain layar
Gelombang tak henti menampar
Di atas geladak hatimu memar

Aku melihatmu duduk diantara
Laut dan darat, pada laut kau pasrah
Pada darat kau berserah,
Aku tak tau dibagian mana hatimu terbelah?

Puisiku : Menolak Bayang Bayang

Ada lapisan langit yang menyimpan wangi hujan,
Katamu dibalik kerudung pagi, ada malam yang tak pernah gelap
Karena cahaya embun yang rimbun
Memantul sepanjang dusun

Aku ingin berbagi rasa seperti karat pada besi
Maka jangan pergi, lelangit akan kuyup digetar tanganmu,
Juga jangan ada bayangan ketika kita beradu pandang.
Suhu ini, memekarkan seluruh rumah kerang di lautan

Ada gemuruh yang tak terdengar di dalam dadamu,
Aku tahu sejak kau dilahirkan untukku, katamu.
Seperti apa gerhana ketika kita tertidur?
Mungkinkah semua pintu yang ada di surga terbuka?

Aku ingin berkata jujur padamu. Seperti pelangi pada warnanya.
Sungai akan mengalir membawa cahaya ketika dunia ini terbenam
Tapi sekali lagi, jangan ada bayangan
Ketika kita beradu pandang.

Puisiku : MUSIM MENYALAKAN API

tangan-tangan serempak
mengacung ke atas
memanaskan langit
gerangan siapa di bumi yang lain
merubah musim jadi bara?
bukankah tangan kitaterikat oleh adat
dan kaki kita terjejakdi teras hakikat?

Depok, 2006/2008

Puisiku : SEKELOMPOK BURUNG TERBANG

sekelompok burung terbang
melukis wajah tuhan
ada petir dan badai
daun nyiur digerogoti tukai
(tapi aku mensyukuri irama penghabisan ini)

Depok, 2006/2008

Cerpenku : Perempuan di Seberang Jalan

Sumber: Suara Karya, Edisi 04/02/2006

Seorang perempuan terlihat tengah menggendong seorang bayi di seberang gedung perkantoran bertingkat. Sesekali perempuan itu mendongakkan kepala ke lantai empat, di mana Silvia berkantor. Sejak perempuan itu datang, matanya selalu tertuju ke arah Silvia berada.
“Lihat perempuan itu, Vera,” kata Silvia kepada teman sekantornya yang juga tahu keberadaan perempuan itu di depan kantornya. “Dia berdiri lagi di situ. Mau apa dia? Apa tidak kasihan sama anak yang digendongnya?”
“Mungkin dia mau cari pekerjaan. Kamu tawarkan saja dia jadi pembantu di rumahmu,” sahut Vera sambil menoleh ke bawah, di mana berbagai jenis kendaraan berlalu lalang di depan perempuan yang sedang dibicarakannya.
“Untuk apa pembantu, di rumahku tak ada pekerjaan. Kau sajalah.”
“Ah, pembantu di rumahku sudah dua orang. Kau saja, Sil.”
“Aku nggak butuh, Vera. Aku suka mengerjakannya sendiri.”
“Untuk menjaga rumahmu barangkali?”
“Sekarang ini masalah pembantu rumah tangga lagi rawan. Jadi, aku belum
membutuhkannya,” tukas Silvia kembali. Dan, perempuan yang tengah dibicarakan itu tetap bertahan di seberang kantornya, menatap ke lantai empat di mana Silvia berada.
Handphone Silvia berdering. Silvia mengangkatnya.
“Sil, mau dijemput jam berapa?” terdengar suara suaminya.
“Jam empat saja Mas, aku mau ke Pasar Baru. Antar aku ya.”
“Ya, jam empat aku ke kantormu,” sahut Fredy, suami Silvia. Silvia tersenyum. Telepon ditutup.
“Enak ya, punya suami setia,” sela Vera yang sempat menguping. “Mau jemput
aja pake nanya dulu kesiapanmu. Terus mau mampir ke mana dituruti. Beruntung kamu Sil, punya suami seperti Fredy,” sanjung Vera. Silvia hanya tersenyum menanggapi komentar teman kerjanya itu.
Pukul empat kurang lima menit Fredy sudah muncul. Silvia melihat kedatangan suaminya itu dari jendela. Dan, perempuan yang menggendong bayi di seberang jalan juga turut memperhatikan kedatangan Fredy yang mengendarai Soluna merah memasuki pelataran parkir. Apa tidak cape berdiri seharian di situ, renung Silvia sesaat matanya masih menangkap sosok perempuan itu. Lalu Silvia pamit kepada Vera yang masih membenahi kertas kerjanya, terus ke luar pintu menuju lift. Setibanya di groundfloor, Fredy sudah menyambutnya dengan senyuman manis. Perempuan yang menggendong bayi di seberang jalan itu menyaksikan sepasang suami istri itu keluar gedung dengan pandangan mata yang nanar.
“Mas, perempuan yang berdiri di pinggir jalan itu sudah sejak pagi hari berdiri di situ. Apa tidak kasihan sama bayi yang digendongnya?” kata Silvia ketika mobilnya melewati perempuan itu. Fredy yang sempat menoleh sekejap ke perempuan yang diceritakan istrinya itu mendadak linglung namun tak diketahui Silvia. Seperti ada getaran yang tiba-tiba merayap ke tubuh Fredy ketika sekilas tadi matanya melihat perempuan yang dimaksud istrinya. “Kasihan juga mas, masa dari tadi pagi kerjanya cuma mondar-mandir di depan kantorku. Entah siapa yang ditunggunya,” lanjut Silvia menerangkan. Sedangkan Fredy justru menancap pedal gas setelah kaca spion memperjelas sosok perempuan itu.
“Mungkin orang kesasar!” tukas Fredy sekadar mengusir kegusaran hatinya.
“Kesasar kok nggak mau nanya, ya repot!” timpal Silvia. Sang suami kali ini tidak
menanggapi. Fredy lebih sering bicara dengan perasaannya sendiri sejak melihat perempuan itu berdiri di depan kantor istrinya.
Dari Pasar Baru Fredy tidak mau diajak ke mana-mana lagi oleh Silvia. Alasan Fredy, ada pekerjaan kantor yang terpaksa dia bawa pulang ke rumah. Silvia tidak protes karena dia tahu pekerjaan suaminya begitu padat sebagai manager di perusahaan yang bergerak di bidang asuransi sehingga pekerjaan itu sering dibawa pulang ke rumah, dan Silvia amat tahu itu. Namun sebaliknya, jika pekerjaan Fredy benar-benar menumpuk, barulah dia total mengerjakannya di kantor sampai pagi. Bila Fredy kecapean karena pekerjaannya itu, Silvia rela memijiti suaminya sampai badannya segar kembali. Belum lagi, kalau Fredy minta diteruskan dengan bercinta, Silvia dengan senang hati melayaninya. Silvia selalu tanggap terhadap apa saja yang diinginkan suaminya. Tapi satu hal yang belum dikabulkan keinginan suaminya yaitu, anak. Silvia kadang kehabisan akal bila Fredy menanyakan hal itu. Karena, hingga kini Silvia belum hamil-hamil juga.
Tetapi untuk hari itu, Fredy tidak minta apa-apa. Dipijiti atau bercinta. Ada yang bergelut di dalam hatinya. Bahkan dadanya seakan hendak meledak. Mengapa dia ada di situ? Kalimat itu terlintas di benak Fredy saat menjelang tengah malam, saat Silvia sudah tertidur nyenyak.
* * *
Orang-orang yang berpapasan dengan perempuan yang berdiri di tepi jalan raya itu hampir semua matanya tertuju kepada bayi yang digendongnya. Seorang ibu datang menghampiri lalu memberi sejumlah uang. Mungkin untuk membeli susu atau membeli keperluan si bayi yang digendongnya. Orang-orang yang merasa iba, ikut-ikutan memberi uang ala kadarnya. Dan, perempuan itu tidak menolak meski dia tidak merasa mengemis. Sudah tiga hari ini perempuan itu berturut-turut datang membawa bayinya lalu berdiri di tepi jalan raya itu lagi, di seberang gedung perkantoran tempat Silvia bekerja. Silvia yang sering melihat perempuan itu, jadi ikut-ikutan bingung terhadap kelakuannya yang sanggup berpanas-panas dari pagi hingga petang. Apa maksud perempuan itu berdiri terus-terusan di situ? Renung Silvia untuk yang kesekian kali.
Namun ada kejadian yang teramat janggal di mata Silvia, yaitu sewaktu dia sedang asyik-asyiknya memperhatikan perempuan itu, tiba-tiba datang sebuah mobil sedan berwarna merah dan berhenti tepat di depan perempuan yang sedang menggendong bayi itu. Silvia amat terkejut karena kenal betul dengan mobil sedan yang berhenti di depan perempuan itu. Bukankah itu mobil Fredy? Silvia membatin. Seorang pria keluar dari dalam mobil dan langsung menghampiri perempuan itu. Sang ibu satu anak itu tampak terkejut sewaktu tangannya ditarik paksa untuk masuk ke dalam mobil. Setelah perempuan itu dapat dibawa masuk bersama bayi yang digendongnya, dengan cepat mobil itu dipacunya ke arah utara. Kejadiannya begitu cepat, sampai-sampai Silvia terpaku diam tanpa bisa berteriak untuk mencegah perbuatan pria yang ternyata adalah suaminya sendiri. Ada apa suamiku dengan perempuan itu? Renung Silvia ketika sadar bahwa telah terjadi sesuatu yang tidak dia ketahui. Yang melihat kejadian itu bukan hanya Silvia, tetapi orang-orang yang berada di sekitar lokasi itu.
“Tadi itu penculikan!” kata seseorang.
“Kejadiannya begitu cepat. Mau dibawa ke mana perempuan dan bayinya itu?”
kata yang lain.
“Ada apa?” tanya seseorang yang belum paham.
“Penculikan!”
“Ooh”
Melihat kejadian yang sangat tak terduga itu, Silvia nekat pulang cepat. Dia
bingung, mau berbuat apa, melapor atau apa. Semua belum bisa dia pahami. Bahkan Silvia tidak tahu lagi di mana suaminya kini berada. Karena sampai larut malam Fredy belum pulang. Ketika dikontak lewat HP-nya, ternyata HP suaminya tidak diaktifkan. Hati Silvia tambah gelisah. Rasa cemburu mulai merayap, mulai membakar kepercayaannya terhadap suaminya yang sangat dia cintai itu. Tiba-tiba telepon di rumahnya berdering. Silvia memburunya cepat, “Mas Fredy?” sapa Silvia dengan bibir gemetar.
“Sabar Sil, aku tahu kamu gelisah,” sahut Fredy dari seberang, “Tapi dengar dulu omonganku,” lanjutnya.
“Jangan dikira aku tidak tahu, mas. Aku melihat apa yang mas lakukan terhadap perempuan itu tadi siang. Jelas sekali, mas! Sekarang katakan, dibawa ke mana perempuan dan anaknya itu?” tanya Silvia berang.
“Anak.., anak itu sekarang ada di dalam mobil. Ta…, tapi ibunya, ibunya,” suara Fredy terputus-putus.
“Kenapa dengan ibunya?” kejar Silvia tak sabar, cemas dan gelisah.
“Tak sengaja aku telah membunuhnya! Maafkan aku Sil.” Wajah Silvia tiba-tiba
berubah tegang, sedang tubuhnya jadi lemas. “Sil, Silvia, dengar dulu aku mau bicara, aku mau berterus terang! Kamu harus bantu aku, aku khilaf!”
“Siapa perempuan itu?”
“Ceritanya panjang Sil, tapi anak yang digendongnya itu adalah anakku.”
“Apa?” Silvia terkejut. Kian perih hatinya. Beribu pekikan muncul di dalam
dadanya. Dia baru sadar kalau orang yang dia cintai itu ternyata hanya seorang bajingan! Benaknya berkata.
“Terus terang, aku ingin punya anak. Maka aku kawini perempuan itu secara diam-diam. Sudah setahun ini, Silvia. Dan, kuminta perempuan itu tetap tinggal di kampung bersama kedua orang tuanya, tapi ternyata perempuan itu tidak sabar. Dia nekat mencariku, dan dia minta untuk tinggal serumah bersama kita. Aku tolak mentah-mentah keinginannya. Tapi dia mengancam, kalau tidak dituruti dia akan meletakkan anak itu di depan kantor kamu. Dan, itu nyaris dia lakukan kalau tidak keburu aku bawa pergi,” papar Fredy
Silvia terisak keras.
“Maafkan aku, Sil. Kamu harus tolong aku. Jangan bilang siapa-siapa atau lapor
polisi tentang kejadian ini. Anak yang ada di tanganku ini kita rawat saja. Kita besarkan bersama-sama. Mudah-mudahan tak ada orang melihat apa yang baru saja aku lakukan. Bantu aku, Silvia.”
“Baik,” kata Silvia berusaha menguatkan hatinya. “Sekarang mas pulang, dan bawa anak itu ke rumah,” lanjut Silvia mencoba tenang, tapi air matanya tidak bisa dibendung.
“Terima kasih, terima kasih Silvia, aku akan segera pulang.”
“Sekarang!”
“Ya, sekarang.”
Telepon terputus. Silvia terduduk lunglai di lantai rumahnya. Hatinya remuk
redam. Tak menduga kejadiannya akan seburuk ini. Tetapi entah apa yang dirasakan oleh Silvia di tengah malam itu ketika dia tiba-tiba bangkit lagi lalu meraih kembali gagang telepon dan kemudian memutar nomor-nomor tertentu.
“Halo, selamat malam, kantor polisi? Ini saya, Silvia, melaporkan bahwa tadi siang telah terjadi penculikan anak di depan gedung Mutiara II, dan sekaligus terjadi pembunuhan terhadap ibu si anak itu di tempat lainnya. Tolong Bapak datang ke Jalan Palang IX Nomor 2002, karena si pelaku akan datang ke rumah saya malam ini!” Lapor Silvia kepada polisi yang menerima pengaduannya.
Setelah Silvia menelepon polisi, di benaknya berkata; ‘Aku mau tahu, seperti apakah melihat Fredy berjalan dengan tangan diborgol!’
***