Sabtu, 03 Maret 2012

PUISI FEBRUARI


Puisi Gita Nuari


JAKARTA

kota ini berkaki seribu jembatan

para urban memasang tenda di bawahnya

ada manusia menjelma tikus

ada tikus menjelma srigala

pada saat berkumpul, bingunglah aku

sebab tak bisa membedakan

satu sama lainnya

di lima wilayahnya tumbuh pohon benalu

bergelayut di pintu-pintu kehidupan

anak-anak meniup terompet kelaparan

suaranya parau di depan pintu gerbang

rumah para pengusaha dan penguasa

mereka dihiraukan. dianggapnya hanya

sebagai kebisingan semata

kota ini berkaki seribu jembatan

tapi hanya untuk mereka yang mendirikan

dan merobohkannya kembali

sedang yang jadi korban

tentu mereka yang ada di bawahnya.

Depok, 2011


LELAKIKU

lelakiku, di penghabisanku nanti

pintu-pintu akan terbuka tanpa kuminta

tak ada yang bisa kaulakukan

kecuali memilih doa

dan kembang bagi kuburku

lelakiku, aku telah melihat berbagai jalan

tapi aku tak tahu akan lewat mana

sebab ruhku sudah ada yang menuntunnya

dan aku cuma menuntun awan dan angin

masuk ke dalamnya

lelakiku, tanam tubuhku seperti menanam

palawija di lereng dunia

tabur kuburku dengan butiran doa

bukan dengan butiran airmata

sebab butir kepalsuan itu

cuma jadi kerikil nantinya.

Depok, 2011


PUKUL 10.15 PAGI

pagi menyeruak mengusung bara

di setiap tempat keberangkatan,

waktu diperdebatkan. di stasiun,

orang-orang tak lagi santai

mereka kerap bergegas hanya untuk

mencari sebatang tusuk gigi

seekor anjing melintas di depan toko. lalu

menggonggong. orang-orang panik

seorang bocah menyembunyikan mainannya

di belakang ibunya

matahari menggelepar di cakrawala

teriknya disapu oleh tukang sapu jalanan

seorang polisi memaki seekor semut

yang berenang di dalam gelas kopinya

seorang gadis berjalan di tengah rel kereta

langkahnya tak mengandung arah

matanya tak seluncur anak panah

hendak ke mana gerangan?

jakarta sedang mendidih, dis

jangan ke sana. datang saja ke perpustakaan

buku-buku bisa kau buat panduan

isinya tidak membuat bebal pikiran

datanglah ke mana, asal jangan jakarta

tapi jangan bawa rasa ingin bunuh diri!

Depok, 2011


LELAKI PULANG

bulan di senggamai awan

malam jadi temaram

pada bayangan dirimu

kutemukan senyummu

mengalirkan belerang

semua merugi. langit,

tak mungkin bawa pelangi

dan embun tak lagi basah

aku bawa senyummu pulang

melalui semak api

kegelapan menyedot bayanganmu

: lelaki pulang,

hatinya tak sampai

masuk ke dalam.

Depok, 2011


*dimuat di Suara Karya 18 Februari 2012

Selasa, 28 Februari 2012

Akhirnya nonton konser a1. I was LIVING MY DREAM!


Flashback 11 tahun lalu tepatnya 18 Maret 2001


Sore hari sebelumnya beli cokelat Delfi isi kismis sekotak gede, trus gw bungkus satu-satu pakai kertas metalik warna biru. Gw taro rapi di dalam box silinder dari plastik mika buatan sendiri, abis itu dibungkus cantik pake pita biru. Niat banget mau kasih cokelat ini buat Ben Adams, cowok gebetan gw dulu. Yah maklum namanya juga ABG.

Pagi hari jam 10 gw dan 3 sahabat gw Trias, Farida dan Mutia udah hadir di luar Tarra Mega Store Mal Taman Anggrek, yang udah rame dipenuhi fans-fans a1 lainnya. Kita sempet kenalan, ngobrol2 ma fans yang lain, suasananya ceria banget. Tapi begitu a1 memasuki toko yang dibarengi teriakan histeris kita semua (gw gak lihat mereka sih, karena jubelan fans di depan gw menutupi pemandangan meski kaca Tarra tembus pandang), suasananya jadi kacau. Fans di belakang gw mulai dorong-dorongan ke depan, padahal pintu Tarra itu kaca, bahaya banget. Dan di samping kita semua, cuma ada pagar pembatas yang terbuat dari kaca, kalo jatuh bisa aja terjun bebas dari lantai 5. Kacau banget, gw denger teriakan fans di kanan kiri. Tangan gw yang megang erat Trias dan Farida terlepas, gw kepisah sama mereka, yang jauh kedorong ke depan . Sendal Mutia hilang, jadinya dia nyeker sambil terus berusaha keluar dari desakan fans di belakang. Tapi susah, areanya sempit banget, tapi gw berhasil mojok di pilar mal. Di sebelah gw ada karyawan Tarra berseragam hitam yang juga terjebak, dia meluk anak kecil yang umurnya sekitar 6 tahun. Anak kecil itu menangis. Karyawan Tarra itu panik, dengan wajah marah dan kecewa dia teriak, “Udah! Jangan dorong-dorongan lagi! Diam semuanya!!” Jelas nggak ada yang dengerin, suasananya rusuh banget, gw mojok sendirian di situ sampai ada pengumuman kalau a1 udah pergi meninggalkan toko. Akhirnya aksi dorong-dorongan berakhir, antrian mencair. Kaki gw lecet kena injek orang-orang, tapi yang menyedihkan itu batal ketemu a1, super kecewa. Gw baru bisa nemuin Mutia, Farida dan Trias setelah lama mengelilingi toko, disana-sini banyak fans yang duduk sambil nangis karena cedera akibat dorong-dorongan. Untungnya ketiga teman gw nggak apa-apa, mereka sehat walafiat, meski kaki Farida bengkak dan keesokannya gak bisa jalan 2 hari.

Di perjalanan pulang di atas patas 6 Kampung Rambutan – Grogol, malas ngomong karena sedih, tiba-tiba kaca bis di samping kita pecah tanpa sebab. Pecahannya kena kita semua, dan bikin kita semua teriak histeris. Buru-buru pindah dari situ, tapi tangan kaki udah kena pecahan kaca dan banyak titik-titik darah, bahkan banyak pecahan kaca kecil-kecil di rambut. Astagfirullah hari yang sangat sangat buruk. Sampai rumah, badan lecet, rambut penuh serpihan kaca, cokelat pun remuk,begitu juga hati gw yang gagal ketemu Ben. Abis itu dengar berita di TV kalau acara siang itu makan korban, ada 4 fans tewas karena terinjak-injak. Innalillahi.. langsung mengucap syukur karena kita berempat masih selamat.

Dan 11 tahun kemudian.....

26 Februari 2012

Senang banget waktu dengar kabar a1 reuni dan bakal gelar konser bareng Blue dan Jeff 98 Degrees di event bertajuk Greteast Hits Tour di Hall D Kemayoran. Kebetulan gw dan Trias dapet tiket gratisan dari League. Mengajak Farida, jadilah kita bertiga minus Mutia mendatangi a1, setelah 11 tahun berlalu dari tragedi Taman Anggrek.

Meski perjuangannya susah karena konser mulai jam 8 tapi jam 5 sore gw masih stuck kena macet di Rindu Alam, Puncak (bayangin tuh), akhirnya jam 8 kurang 15 gw berhasil sampai JIExpo berkat doa dan usaha suami dan ortu gw :D Udah mikir aja kalo emang ga jodoh sama a1, tapi ternyata Tuhan mengijinkan gw nonton a1. Bahkan karena tergolong sepi, penonton festival 2 boleh masuk ke festival 1, lumayan banget haha..

Konser mulai sekitar jam setengah 9 dan dibuka oleh penampilan Jeff Timmons yang dewekan nyanyi lagu-lagu hits 98 Degrees seperti Because of You, I Do (Cherish You), Invisible Man, dan beberapa lagu lainnya. Penampilan Jeff bisa dibilang 'pembuka konser yang panas', dia buka kancing bajunya satu persatu, ngajak cewek naik ke atas panggung di lagu I Do (Cherish You, bahkan ngajak 15 fans naik ke panggung di lagu Una Noche dan ngebiarin dada terbukanya digrepe-grepe. Sayangnya di beberapa lagu doi lipsync. Tapi mendengarkan lagu-lagu 98 Degrees yang memang udah gw hapal banget, cukup menghibur dan berhasil 'melatih' jantung gw yang waktu itu sumpah deg-degan nunggu a1. Dini teman gw berpendapat si Jeff memang harus beraksi ala Ricky Martin gitu, kalo nggak penampilannya garing karena dia sendirian. Oke deh Jeff its okay :D You're fabulous!

Jeff Timmons dan kemejanya yang sengaja dibuka


Kelar Jeff, gw lihat 3 kursi dipasang di panggung. Pastinya a1, dan kita udah jerit-jerit nggak karuan persis ababil waktu intro tampil di layar, yang menampilkan video-video a1 jaman dulu.Akhirnya mereka keluar juga, hanya aja minus Paul Marazzi yang memang udah keluar dari grup.

Ben dan Chris. Dua-duanya unyuuu

full team. Chris, Ben, Mark a1. They are amazing musician (not boyband)


Ben Adams, Mark Read, Christian Ingebrigsten menggebrak dengan lagu Same Old Brand New You. Satu lagi mimpi gw terwujud, meski butuh 11 tahun nunggu ternyata bisa juga lihat mereka konser. Apalagi lagu yang dibawakan kebanyakan lagu-lagu lama, seperti Summertime of Our Lives, akustik Everytime dan ada beberapa lagu digabung jadi medley seperti One More Try, Living The Dream, No More, Heaven By Your Side, Walking in The Rain dan One Last Song. Ada juga lagu baru dari album terakhir mereka seperti In Love and I Hate it dan Waiting For Daylight. Bahkan a1 juga nyanyi cover version Poker Face-nya Gaga dan I Gotta Feeling-nya Black Eyed Peas. Mereka amazinggg banget. Tampil mainkan musik sendiri di panggung, jauh dari kesan boyband. Tapi lucunya Ben bilang kalau mereka dulu ngedance, dan meski sekarang udah nggak dance lagi, tapi masih bisa kok. Mereka ngedance di lagu Ready or Not, persis di video musiknya, yang gw hapal banget gerakan tangannya. OMG WHAT A PERFORMANCE. Mereka tetap prima, suara gak berubah, main musik jago, THEY STOLE THE NIGHT! Nggak perlu gw bilang lah ya, kalau Ben tambah cakep sekarang, lebih manly, hot and yummy (yeah I said it I know hahaa).

Sumpah lo ya cakep banget sekarang :D

Huhuuu sedihnya minta ampun waktu mereka nyanyi 2 lagu terakhir, Take on Me dan Caught in The Middle. Rasanya gak puassss, saat ini juga gw mau banget book tiket ke Makasar, karena mereka bakal tampil di sana 2 Maret.

Setelah itu Blue pun muncul, baru 2 lagu mereka nyanyikan tapi gw, Trias dan Farida mundur ke belakang. Faktor U pengaruh banget, pinggang pegel boo.. Menurut gw nggak ada yang spesial dari penampilan Blue. Mereka tampil layaknya boyband, dance ala kadarnya, plus ganti2 kostum. Ala Westlife lah. Tapi lumayan bisa dengerin lagu Breathe Easy favorit gw dari penyanyi aslinya. Mereka nyanyi bentaran banget, setengahnya jatah a1, yang bikin gw makin bersyukur #eh. Semburan confetti pun menutup konser #GreatestHitsTour di Jakarta. Hwaaaa sedih!

so BLUE, so boyband


And that’s a wrap!! Gw sering nonton konser, tapi jarang nulis di blog. Menurut gw konser a1 ini begitu momentum, indah dan sentimental di hati gw, jadi wajib gw share di sini. Mudah-mudahan suatu hari nanti gw bisa nonton konser a1 lagi, jika Allah mengijinkan. Aminnn… (sambil lirik harga tiket ke Makasar lol)

Minggu, 12 Februari 2012

Nobar STRAP :Underworld Awakening bareng Activia


Untuk ketiga kalinya, saya diundang nonton bareng oleh Activia @ActiviaID dalam event rutin mereka yang bertajuk STRAP. Seperti dua acara STRAP sebelumnya, acaranya jelas seru, karena film yang dipilih pastinya film box office, dan selain dapat snack gratis teman menonton film, pastinya dibagikan juga produk Activia. Wajah dan perut sama-sama “Senyum” deh, persis tagline-nya Activia.


File:Underworld awakening poster.jpg


Masih ingat banget, film STRAP Activia pertama kali itu The Immortals karya Tarsem Singh, dan STRAP kedua adalah Mission Impossible Ghost Protocol yang dibintangi Tom Cruise. Nah film STRAP yang ketiga ini adalah Underworld Awakening, seri keempat dari film Underworld dengan tokoh utama Selene (Kate Beckinsale). Dilihat dari judul-judul film yang disebutkan di atas, setuju dong kalau pilihan film di nobar STRAP Activia nggak pernah salah. Karena memang film box office yang ditunggu-tunggu. Serunya laga dan jalan cerita dalam film bikin peserta nobar nggak ada yang meninggalkan tempat duduknya sampai film selesai (kecuali mungkin ada yang ke toilet #penting).

Nobar STRAP #3 ini diadakan Sabtu, 11 Februari 2012 dan masih bertempat di Blitz Megaplex Pacific Place seperti dua nobar STRAP sebelumnya.



Waktu baca undangan dan tahu kalau film yang akan ditonton adalah Underworld Awakening, girang banget. Ya iyalahhh karena saya adalah pecinta buku bergenre fantasy, pastinya super excited kalau nonton film yang tokohnya ‘bukan manusia biasa’. Underworld jelas menarik, karena menceritakan bangsa vampire yang berhasil lolos dari Pembersihan (pencarian dan pembunuhan besar-besaran ras ‘Non-Humans’ oleh manusia) dan usaha vampire melawan serangan musuh bebuyutan mereka, yaitu werewolf.

Underworld Awakening bersetting waktu 6 bulan dari Underworld Revolution yang merupakan seri sebelumnya. Manusia berhasil menangkap vampire Selene (Kate Beckinsale). Dalam kurun waktu yang menurutnya baru satu hari, Selene terbangun ‘keesokan harinya’ dan menemukan dirinya berada dalam laboratorium percobaan yang bernama Antigen. Selene berhasil kabur dari Antigen, dan mengetahui jika sudah 12 tahun berlalu sejak dirinya ditangkap dalam Pembersihan. Mengikuti visi yang didapatnya, Serene mulai mencari keberadaan kekasihnya yang merupakan ras hybrid atau campuran antara vampire dan werewolf, Michael Corvin (Scott Speedman). Tidak menemukan Michael, Selene bertemu dengan David (Theo James) vampire lain yang berhasil lolos dari Pembersihan. Mengikuti visi lainnya yang ia dapatkan, Selene juga menemukan seorang gadis kecil bernama Eve (India Eisley), yang mengaku telah membebaskan Selene dari Antigen.

Pelarian mereka tidak berjalan mulus, karena ras werewolf yang dianggap sudah punah sama sekali, ternyata mengejar mereka dan melukai Eve. David membawa Eve ke tempat persembunyiannya untuk disembuhkan, dan tindakan itu ditentang oleh pemimpin vampire yang merupakan ayah David, yaitu Thomas. Dia beranggapan Selene dan Eve yang selama ini menjadi subyek percobaaan dan tengah dicari keberadaannya oleh manusia, akan membahayakan kelompok vampire itu. Belakangan setelah disembuhkan Eve diketahui adalah ras hybrid, persis seperti kekasih Selene, Michael Corvin. Siapakah sebenarnya Eve? Mengapa ras werewolf belum punah dan bahkan menjadi lebih kuat, serta menyerang tempat persembunyian vampire dan menculik Eve? Dimanakah Michael Corvin, benarkah kekasih Selene itu benar sudah meninggal? Masih banyak lagi pertanyaan yang pastinya akan terjawab jika kamu menonton film ini. Bocoran, pastinya nggak puas menonton film ini sampai habis, karena persis seperti buku fantasy, masih ada seri selanjutnya booo..

Wah, seru banget film yang disuguhkan nobar STRAP Activia kali ini. Mencengangkan, has a lil bit violence on the movie which is good (karena itulah vampire yang sesungguhnya, sadis dan menyeramkan, seperti vampire dalam True Blood, bukan Twilight). Banyak adegan penuh darah muncrat sana sini, persis pas makan Activia premium kesukaanku yaitu Leci (sengaja ambil dua karena enak banget), tapi untungnya ga mules nontonnya (gara2 enaknya Activia kali ya. LOL)

Terima kasih Activia untuk nobar STRAP-nya! Ditunggu undangan STRAP selanjutnya, yang pastinya bikin wajah dan perut saya ter-“Senyum”.

Btw, jangan lupa ya teman, pencernaan sehat awal hidup sehat, makanya jangan lupa bikin perut kamu “Senyum” tiap hari dengan mengkonsumsi Activia. Lagipula, Activia satu-satunya YOGHURT PROBIOTIK dengan Bifidobacterium lactis animalis di Indonesia, yang secara klinis efektif menjaga KESEHATAN PERCERNAAN lho. Salam pecinta Activia (dan cerita fantasy :D)

Kamis, 01 Desember 2011

WIN Clockwork Prince Audiobook & SIGNED head shots from Ed Westwick & Heather Lind





Win two autographed head shorts & three CP audiobooks from @MundieMoms 1st winner drawn- signed head shots of Ed and Heather & a CP audiobook 2nd & 3rd winners drawn- will each receive a CP audiobook

This is a great contest so make sure you click below link to enter


*international contest (international rules apply)

WORDISME : Menulis untuk hidup, dan menghidupkan


Lagi-lagi posting blog yang agak telat. Tapi tidak ada kata terlambat untuk apapun, ya kan?


Tanggal 19 Desember lalu, saya ikut menghadiri workshop tentang menulis bertajuk WORDISME (bisa juga dibaca Word-is-me) yang diprakarsai oleh penulis ternama Indonesia mbak Alberthiene Endah. WORDISME adalah one day writing workshop bertagline ‘Menulis untuk hidup, dan menghidupkan’ yang menurut mbak AE memang bertujuan untuk membimbing bakat-bakat baru dalam dunia penulisan di Indonesia. Mbak AE menyampaikan maraknya tulisan-tulisan yang bertebaran di blog, twitter dan media sosial lainnya, yang menunjukkan tingginya minat generasi muda untuk mencemplungkan diri ke dalam dunia penulisan, namun tidak memiliki pedoman bagaimana harus memulai secara profesional, terlebih lagi, tidak memiliki rasa percaya diri akan tulisannya.
Nah dari alasan di atas, mbak AE akhirnya mengajak teman-teman penulisnya untuk mengadakan acara WORDISME ini. Informasi akan WORDISME sepertinya juga sebatas masih di Twitter. Kebetulan saya yang (lumayan) aktif di Twitter, suatu hari melihat RT dari mbak Ollie (@salsabeela) tentang event ini dan ada teman pula yang memberitahu untuk segera daftar (padahal yakin banyak teman penulis di luar Twitter yang minat ikutan). Cara daftarnya hanya perlu menulis email ke mbak AE, tuliskan kenapa kita ingin jadi penulis. Tidak dijelaskan sih ada berapa email yang masuk ke mbak AE, tapi betapa girangnya hati ini ketika saya mendapatkan email balasan kalau saya terpilih jadi peserta. Kalau melihat timeline Twitter, ada banyak juga yang ngaku nggak terpilih, jadi sebenarnya saya lumayan beruntung deh sampe dipilih :D
Sesi yang dihadirkan di WORDISME ada 5, dan semuanya luar biasa bermanfaat. Pembicara yang dihadirkan nggak tanggung-tanggung, memang orang yang pakar dibidangnya.
Oh ya, karena yang dibahas banyaakkk banget, jadi saya rekap intinya saja.

Sesi I Penulisan Jurnalisme Pop
Pembicara: Petty S. Fatimah @petz09 (Pemimpin Redaktur Majalah Femina) dan Reda Gaudiamo (Pemimpin Grup Majalah Wanita Gramedia)
Dalam sesi ini, yang dibahas adalah bagaimana kiat agar tulisan kita bisa dimuat di media, dalam kapasitas sebagai freelance atau penulis lepas. Hal paling utama yang perlu diperhatikan adalah sesuaikan topik tulisan, gaya bahasa, thesaurus bahkan foto, dengan karakter majalah dan umur pembacanya. Menulislah dengan tertib sesuai format artikel yang biasa terbit di majalah tersebut.
Cukup banyak yang didiskusikan sih, seperti format menulis artikel yang baik (kalimat catcher 25 kata, introduction, dst), pemilihan angle dll. Tapi yang mau saya share, teman-teman penulis bisa banget kirim email ‘jualan diri’ ke contact@femina.co.id jika berminat menjadi penulis lepas untuk majalah Femina, jangan lupa attach contoh tulisan ya.

Sesi II Penulisan Biografi
Pembicara: Alberthiene Endah @AlberthieneE (Penulis biografi Chrisye, KD, Titiek Puspa, Probosutedjo, Ani Yudhoyono, dll)
Banyak sekali yang disharing oleh mbak AE di sesinya yang dipandu oleh host mas Mayong ini, antara lain kiat menulis biografi yang baik, bagaimana penulis harus ‘pacaran’ dengan tokoh yang dituliskan biografinya, agar bisa menyatukan ‘rasa’ dan akhirnya bisa menulis cerita seperti halnya tokoh biografi ini menulis untuk dirinya sendiri. Jika penulis biografi sedang hepi berat, tapi harus menulis tentang kisah kelam penuh airmata si tokoh biografi, nggak dapet banget ‘feel’nya. Mbak AE sampai menyebutkan kata FAILED berkali-kali (lagi tren soalnya, kata FAILED :D).
Intinya mbak AE mengatakan jadi penulis biografi itu haruslah menjadi penulis yang powerful, bisa menggali hati, menyelami perasaan sumber dan tahan mental.
Pertanyaannya, menulis biografi itu biasanya ‘pesanan’ kan ya? Lalu bagaimana dengan kita-kita yang amatir ini, siapa yang mau meminta kita untuk menuliskan biografi-nya?
Jawab mbak AE, tulislah karya terbaik kita dan jadikanlah itu sebagai ID card kita untuk mengajukan diri menulis biografi seseorang. Kalau pun bukan biografi, kita bisa menulis tentang kisah nyata hidup orang-orang gigih (tidak harus orang-orang terkenal). Misalnya perjuangan seorang ibu yang anaknya menderita kanker, kisah pengusaha yang dulunya supir angkot, dll. Buku-buku sejenis ini membutuhkan teknik menulis yang hampir sama dengan menulis buku biografi. Dan yang terpenting, hak cipta buku biografi ini dimiliki oleh penulis lho, bukan tokohnya. Jadi apakah nanti akan diangkat dilayar lebar, diterjemahkan ke bahasa lain, hak cipta ada di penulis dan pastinya penulis yang berhak untuk menerima uang lelah untuk hal-hal tersebut. Asyik ya?

Sesi III Meraih Sukses dari Blog

Pembicara: Ollie @salsabeela (penulis, owner dari kutukutubuku.com dan nulisbuku.com) dan Raditya Dika @radityadika (penulis buku Kambing Jantan, Cinta Brontosaurus, etc - scriptwriter komik/film, komedian)
Sesi paling seru penuh tawa di WORDISME. Dan saya hepi banget bisa di-dongengin sama si jenius lucu bang Radit hehe (ngefans soalnya). Jadi Ollie dan Raditya Dika berbagi kiat bagaimana caranya bisa sukses dari hal yang paling simpel, nulis di blog. Kalau Raditya berlanjut ke film, mba Ollie melebarkan sayapnya ke bisnis. Paling seru waktu Raditya mengajarkan bagaimana mencari perspektif aneh (hal sederhana yang bisa diubah jadi ‘joke’). Contoh nih :
“Dari kecil Mama suka nyuapin aku sambil pura-pura main pesawat. Jadi sendoknya terbang, aaaaa dan ‘pesawat’nya masuk mulut. Jadinya sampai sekarang kalau aku liat pesawat lewat di langit, bawaannya mau mangap aja aaaaa...”
Pesan dari bang Raditya Dika: Sesuntuk apapun, se-bad mood apapun, menulislah. Satu halaman tulisan jelek tidak apa-apa, daripada tidak menulis satu halaman pun. Oke deh Dit, makasih sarannya *kedip

Sesi IV Pelatihan Menulis Fiksi Novel/Cerpen
Pembicara: Djenar Maesa Ayu @djenarmaesaayu (penulis, pemain film), Clara Ng @clara_ng (penulis novel Dimsum Terakhir, trilogi Indiana Chronicle, dll), Hetih Rusli @hetih (editor fiksi Gramedia) dan Windy Ariestanty @windyariestanty (pemimpin redaksi dan editor Gagas Media)
Di sesi ini tidak terlalu banyak membahas tentang teknik menulis, yang berputar sekitar setting, karakter dan plot – namun dua penulis tenar mba Djenar dan mba Clara berbagi kiat bahwa penulis pemula sebaiknya menulis untuk diri sendiri, yang berimbas pada mengenali ‘karakter’ tulisan terbaik yang bisa kita buat. Janganlah menulis untuk tren, jangan menulis untuk penerbit, jangan menulis untuk pembaca (maksudnya mungkin begini, kita terbiasa menulis dengan gaya serius lalu mencoba menulis teenlit, membutuhkan riset dan penyelaman karakter supaya bisa balik ‘abg’ lagi. jika tidak berhasil, gagallah karya tersebut). Mba Clara juga memberikan wejangan seputar pencarian ide, apa yang akan ditulis. Ide itu murah, katanya. Namun untuk menjadikan buku itu baik, pilihlah ide cerita yang berkemungkinan memiliki banyak konflik.
Kemudian mba Hetih dan mba Windy yang sehari-harinya berkerja sebagai editor, membocorkan apa yang diperlukan agar naskah kita bisa cepat dilirik oleh penerbit. Bagi saya, ini adalah sesi yang sangat mencerahkan.

Sesi V Penulisan Menulis Skenario
Pembicara : Salman Aristo @salmanaristo (penulis skenario film Sang Penari, Laskar Pelangi, Garuda di Dadaku, dll), Alexander Thian @aMrazing (penulis skenario sinetron – entah sinetron apa), Aditya Gumay (produser, sutradara, penulis skenario film Emak Ingin Naik Haji, Rumah Tanpa Jendela)
Karena pemahaman saya tentang skenario itu nol, dan karena sesi ini paling sore, mengantuklah saya. Untungnya perdebatan antar pembicara seru, jadi saya ikutan ‘seger’ lagi. Yang menjadi perdebatan adalah menulis skenario untuk uang, atau untuk idealisme.
Perdebatannya kira-kira seperti ini :
Alexander Thian : “Menulis skenario sinetron memang membuat saya dapat cercaan tiap hari. Tapi kan Anda bebas memilih tujuan Anda menulis. Ingin materi, kesenangan atau idealisme.”
Host : “Anda pilih yang mana?”
Alexander Thian : “Kalau saya jelas uang. Biaya produksi 1 episode sinetron itu bisa 140 juta. Kalau saya hanya mengandalkan idealisme, kru saya bisa tidak makan. “
Aditya Gumay : “Sebentarrr... Saya harus meluruskan ini. Disini banyak sekali penulis-penulis muda. Sayang sekali jika diberikan kesan kalau idealisme itu tidak bisa menciptakan uang. Bisa kok, kita buat film yang bagus tapi juga menghasilkan banyak uang. Saat akan membuat skenario Emak Ingin Naik Haji, saya tidak punya uang dan belum tahu bagaimana akan dapat uang untuk menjadikannya film. Tapi saya tahu film itu harus dibuat. Syukurlah sampai sekarang banyak orang yang terinspirasi film ini. Pesan saya, buatlah karya yang bagus. Buat apa Anda capek-capek bikin karya kalau hanya untuk dihujat setiap hari.”
Peserta workshop : “Mas Thian, maap ya maap... Kenapa ya menulis cerita yang berselera pembantu? Kenapa bukan pembantu-pembantu itu yang diedukasi?”
Alexander Thian : “Saya bukannya gak mau. MAU BANGET. Awal saya terjun ke penulisan skenario sinetron, saya berjanji pada diri sendiri. ‘Saya akan ubah sinetron Indonesia jadi sinetron bermutu!’ Tapi sebulan, dua bulan... gagallah rencana itu. Pernah saya menulis yang agak bagus sedikit, pemainnya benar-benar bisa berakting, teknik pengambilan gambar ala film berkualitas, pembantu saya bilang, ‘Saya nggak suka mas.’ Jadi, ya mau bagaimana lagi?”
Aditya Gumay : ““Wah jangan-jangan rumah yang dipasangi decoder untuk pengukur rating isinya memang babu-babu. Ayolah, jangan sampai level kita hanya level babu. Don’t be a part of the silent majority. Bisa kok buat sinetron bagus tapi tidak gagal di rating. Ingat sinetron Keluarga Cemara? Nah, mudah-mudahan 300-an peserta di sini lebih memilih untuk menulis film berkualitas, tidak hanya mengikuti selera babu.” (disambut riuh tepuk tangan penonton)
Perdebatan tidak persis seperti yang ditulis di atas, tapi kira-kira esensinya sama. Alexander Thian juga gak ‘separah’ kelihatannya, karena mas Thian bilang semoga dengan uang yang dikumpulkannya dari hasil menulis skenario ‘selera babu’, dia bisa memperjuangkan idealismenya kelak. Salman Aristo yang tidak ikut berdebat di topik ‘selera babu’ ini, tetap berbagi kiat menulis skenario yang baik, yang lebih ditekannya pada penguasaan teknik.
Dan itulah seluruhnya mengenai WORDISME. Sebuah acara berbobot yang bermanfaat dan luar biasa. Gratis goodie bag, makan siang, coffee break, snack, dan yang terpenting, gratis ilmu penulisan yang termasuk langka. Harapan saya semoga saja workshop-workshop sejenis akan banyak diadakan. Karena pastinya ini adalah pencerahan bagi siapapun yang berniat menulis untuk ‘hidup’.

Selasa, 29 November 2011

CLOCKWORK PRINCE WALMART EDITION GIVEAWAY




Shadowhunters, don't miss to enter @MundieMoms Clockwork Prince Giveaway (Walmart Edition) which contains special story, Burning Bright, which tells the story from Jem's point of view of how he first met Tessa.


*international contest

Sabtu, 29 Oktober 2011

THE MORTAL INSTRUMENTS - The Next King of YA Fantasy Franchise


Mampir ke blog sendiri dan baru sadar sudah lama banget nggak update blog, artinya belum bisa dibilang blogger nih. Blogger sewaktu-waktu, mungkin itu yang cocok.

Kali ini mau ngobrolin buku YA (Young Adult) fantasy favoritku yang luar biasa, KILL IT atau KICK BUTT deh istilahnya :D Setelah Harry Potter habis masa kejayaannya (meski namanya tetap harum sepanjang masa), alias buku sudah terbit semua, film pun sudah final – lalu ada Twilight yang juga hampir habis masa ‘tayang’nya karena buku sudah tamat, film tinggal dua yang terakhir (Breaking Dawn Part I dan II), kira-kira serial buku fantasy apa nih yang bisa menempati tempat kehormatan menggantikan kedua franchise itu?

Maret nanti akan hadir film yang diramalkan akan menjadi salah satu raja franchise YA selanjutnya, yaitu The Hunger Games karya Suzanne Collins. Saya sudah membaca trilogy The Hunger Games, dan review 5 bintang untuk buku ini, untuk penjabaran arena Hunger Games yang luar biasa, kisah para peserta untuk bertahan hidup di dalam arena yang dituliskan dengan mendetail dan fantastis, lengkap dengan intrik keluarga, persahabatan, dan kisah cinta tak berbalas yang menggugah hati (ya, menurut saya Katniss Everdeen tidak pernah benar-benar mencintai Peeta Mellark). Tapi kekurangan dari buku ini adalah, kisah berulang tentang arena Hunger Games di buku kedua tanpa ada sesuatu yang ‘baru’ dan bahkan perang dan konflik politik di buku ketiga cenderung tidak menarik hati para remaja (yang merupakan target pasar buku YA fantasy). Kita tunggu saja jika filmnya berhasil mengadaptasi bukunya dengan lebih baik, apalagi kehadiran Jennifer Lawrance (Katniss) dan Josh Hutcherson (Peeta) yang menurut saya adalah perfect cast!

Nah mengambil kekurangan-kekurangan dari trilogy Hunger Games, ada buku yang menurut saya SEMPURNA dari segala aspek, yaitu THE MORTAL INSTRUMENTS karya Cassandra Clare. Istilahnya, buku ini adalah paket komplit dari semua pecinta YA fantasy, karena membahas Penghuni Dunia Bawah yaitu bangsa vampir, warlock, manusia serigala dan peri. Protagonis dari buku ini adalah bangsa Nephilim atau yang disebut Pemburu Bayangan, mereka adalah polisi bagi para Penghuni Dunia Bawah dan pembasmi iblis, dengan tujuan untuk menjaga kedamaian dunia.



Kalau ada review book bisa dirating 10, 10 deh buat THE MORTAL INSTRUMENTS. Dari konflik keluarga, teman, percintaan, orangtua, semuanya ada disini. Diceritakan dengan alur cepat dan menanjak, bikin kita tidak mampu meletakkan buku ini sampai halaman terakhir habis dibaca. Award yang didapat THE MORTAL INSTRUMENTS pun bejibun dari seluruh dunia, termasuk prestasi #1 New York Times Bestsellers untuk hampir semua bukunya, yang didapat tidak lama setelah tanggal rilis buku.

THE MORTAL INSTRUMENTS ternyata memiliki saudara, yaitu prekuelnya yakni THE INFERNAL DEVICES, yang masih menceritakan tentang Pemburu Bayangan namun menariknya bersetting London di era Victoria.

I wont talk much about this book, you should read it so you can agree with me. Highly recommended and satisfaction guarantee!

Baca yah, kalau nggak kamu termasuk golongan orang-orang merugi :p

Jangan lupa juga gabung di The Mortal Instruments Indonesia www.mortalinstrumentsind.grou.ps dan follow twitternya @TMIndo

Kamis, 28 Juli 2011

ADAM LAMBERT IN A BOTTLE


Mumpung lagi di KL, Trias sepupu saya mengingatkan agar kami mencari air minum kemasan dalam botol bergambar Adam Lambert, yang hanya beredar di Malaysia. Kami tahu tentang air minum Adam Lambert ini dari tweetnya @SG_Glamberts, fans club Adam yang berada di Singapore. Penasaran kok bisa ada botol air minum yang ada gambar Adam-nya, kami pun browsing internet tentang keberadaan air minum Adam ini.

(Catatan : ini bukan blog berbayar loh, sampai promosiin merk air mineral dalam kemasan hehe)

Ternyata oh ternyata, definisi sesungguhnya dari botol unik ini adalah : a magazine on a bottled water! Atau bisa diartikan sebagai majalah dalam kemasan air minum botolan kali yah. Jadi, entah air minumnya yang bermerek Molecule atau majalahnya tuh yang bernama Molecule, saya juga bingung.

Ini dia gambar penampakannya.


Jadi, jika cover minuman ini kita kelet (ya ampun bahasanya hihi), ada majalah di dalamnya. Saya sendiri nggak tertarik untuk buka covernya, berat ke Adam-nya sih :p Tapi sumpah ya, Molecule ini inovatif dan unik banget. Ide bisnisnya brilian. Karena sbb:

  1. Siapa coba, yang nggak milih air mineral yang ada tampang Adam Lambert-nya di supermarket? Sementara yang lain-lain cuma bergambar pegunungan yang membosankan itu?
  2. Pastinya lebih milih air minum yang ada gratis majalahnya dong. Apalagi kalau di dalam majalahnya banyak kuis? (para kuis hunter pasti setuju)
  3. Majalah ini tidak memasang informasi edisi keberapa di covernya, jadi nggak ada kata basi buat beli majalahnya. Kecuali memang udah basi beneran tuh air mineral di dalamnya (expired)
  4. Menggerakkan para remaja untuk hidup sehat dengan minum air mineral. Kenapa para remaja? Pastilah target konsumen untuk produk ini para ABG, karena cover artis-nya itu loh

Oh ya, botol edisi Adam Lambert ini baru edisi yang kedua. Molecule ini terbit bulanan, jadi produk ini tergolong baru di Malaysia, karena pastinya baru berjalan dua bulan. Edisi pertamanya adalah Leona Lewis yang ada di cover. Satu nih yang kurang dipikirkan Molecule. Kalau saya yang punya, pastinya bakal saya sering-sering pasang tampang Justin Bieber di cover Molecule, atau minimal artis Korean Pop. Dijamin diserbu ABG Jakarta deh, yang sama noraknya sama saya (demen sama botol bergambar artis huahaaa..)